Skandal Dunia Pendidikan: Gibran Jo-Gate

0
IMG-20261021-WA0038

RNTv-Jakarta, Di daerah perbatasan Kabupaten Bogor, ada pesantren gede, tapi sekelilingnya prostitusi dan warung kopi pangku merajalela seperti panu di musim hujan.

Pemerintahan Prabowo saat ini sedang diguncang hebat dengan berbagai persoalan seperti karhutla, Jatuhnya Harga Saham di BEI hingga wakil presidennya yang diduga hanya lulusan SD karena belum bisa membuktikan ijazah SMP dan SMA nya.

Jika hal ini terus bergulir dan membuat rakyat marah, kondisi ini bisa semakin tak terkendali.

Bayangkan dunia pendidikan di Indonesia saat ini diacak-acak dalam kurun waktu 10 tahun lebih dengan kasus eks presiden ke-7 Jokowi dengan ijazah palsu UGM nya, lalu sekarang anaknya yang wapres pun demikian

Pendidikan Indonesia dibangun sudah lama sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan oleh para tokoh bangsa agar mendisi generasi muda berikutnya untuk mendalami berbagi ilmu di dunia pendidikan Indonesia, diantaranya;

Di Bandung ada ITB dengan sekolah arsitektur, perencanaan, dan pengembangan kebijakan tertua di republik ini. Tapi kotanya macet tak berkesudahan, banjir Cileuncang tiap hujan deras, dan trotoarnya habis diserobot pedagang. Belum manajemen sampah kotanya yang seperti warung kelontong, asal dibuang di pinggir jalan.

Di Depok ada UI, kampus kuning gudangnya pakar kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, dan tata kota terbaik. Tapi lihat Kota Depok di luar pagar UI. Tata ruang amburadul, kemacetan Margonda yang abadi, trotoar sempit, dan kabel semrawut yang menggelantung liar di mana-mana.

Di Bogor ada IPB, kiblat riset pertanian dan ketahanan pangan nasional. Tapi beberapa kilometer keluar dari Dramaga: sawah dan lahan produktif terus dibabat jadi perumahan, sementara petani lokal di sekelilingnya tetap miskin, tercekik pupuk mahal, dan kalah kuasa oleh yang punya duit.

Di Semarang ada Undip, punya jurusan Teknik Lingkungan dan Kelautan terdepan. Tapi kawasan pesisir Semarang bawah tiap tahun tenggelam dihajar rob, penurunan muka tanah tak terkendali, dan pantura timur macet berdebu terendam lumpur air laut.

Di Surabaya ada ITS dan Unair, pusat teknologi maritim, rekayasa sipil, dan kesehatan masyarakat tapi begitu melangkah ke kawasan pinggiran dan pesisir Surabaya Utara: permukiman kumuh bantaran rel kereta dan sungai masih menjamur, sementara warga nelayan lokal terhimpit di antara reklamasi darurat dan bau limbah industri.

Di Tangsel ada BRIN di kawasan Puspiptek Serpong, komplek riset dan teknologi nuklir termegah warisan B.J. Habibie yang dihuni ribuan peneliti, fisikawan, dan perekayasa bergelar doktor. Tapi cuma berjarak beberapa ratus meter keluar gerbangnya: truk tanah raksasa melintas bikin jalanan amblas dan debu yang merusak paru-paru, drainase mampet bikin langganan banjir tiap hujan lebat, kabel optik semrawut menjuntai sampai ke aspal, dan persoalan bau gunungan sampah Cipeucang bertahun-tahun tak kunjung tuntas. Belum gelap banget kalau malam dan macet.

Di Jogja ada UGM, gudangnya begawan ekonomi, sosiologi, hingga perencanaan wilayah. Di ruang kelas, teori pemerataan dan pembangunan inklusif dikupas tuntas. Tapi keluar boulevard UGM, hampir tidak ada industri manufaktur padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja formal dengan gaji layak. Lapangan kerja buntu, UMR buruhnya terendah se-Indonesia, harga tanah meroket tak terbeli warga lokal bahkan untuk sekedar mimpi membeli pun tak ada. Krisis sampah menumpuk di jalanan dan di sungai. Dan di setiap jengkal jalanan berdiri juru parkir bermodal sempritan yang penghasilan uang tunainya mengalahkan gaji lulusan sarjana.

Faktanya, para alumni mereka mendaki diri sebagai bibit paling unggul dan terhebat di republik ini. Merekalah yang hari ini memenuhi kursi-kursi birokrasi, menjadi teknokrat, staf ahli kementerian, kepala dinas, sampai perancang dokumen RPJMD dan APBN di pusat maupun daerah. Tapi hasilnya apa? Kebijakan tetap tambal sulam, proyek pesanan pemodal tetap jalan, dan teori-teori hebat itu langsung menguap begitu berhadapan dengan meja tender dan kompromi politik.

Bagaimana strategi agar Wapres Bisa Mundur?

Pemerintah bisa melakukan berbagai cara halus agar wapres mau mengakui apa yang telah diperbuat dengan masa pendidikannya yang diduga dipalsukan untuk meraih jabatan publik

Pertanyaannya sederhana : Ilmu dan jabatan kalian itu sebenarnya buat apa? Berdebat teori berbusa-busa di ruang rapat ber-AC, memajang indeks Scopus, dan sibuk bikin presentasi pakai istilah asing yang canggih, sementara realitas tanah tempat kalian berpijak dibiarkan hancur berantakan.

Orang-orang cerdik cendekia dan saleh ini apa tidak punya manfaat untuk lingkungan sekitar? Apa gunanya kampus megah dan magrong-magrong? Kalau tanah dan warga di depan pintu gerbangnya sendiri tetap ruwet dan terpinggirkan, ilmu kalian itu sebenarnya buat siapa?

Kasus bapak dan anak yang sudah merusak tatanan negara dengan menggunakan ijazah palsunya untuk meraih puncak kekuasaan, bisa kita sebut Gibran Jo-Gate karena sudah merusak dunia pendidikan di Indonesia.

Seharusnya, ditutup aja semua kampus itu lalu sistem pendidikan kita meniru Gibran. Habis SMP langsung jadi wapres. (utw)

 

 

 

 

 

 

Promo Iklan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *