Pujian MPR untuk MBG, tapi di Berastagi 269 Siswa Tumbang

0
IMG-20260815-WA0001

Jakarta, RNTv, Kalian mungkin baru saja mendengarkan pidato Ketua MPR, Ahmad Muzani. Pujian untuk program MBG, beh..menyundul langit. Apakah beliau tahu, kemarin, ada 269 siswa tumbang karena kerancunan MBG. Ngeri lihat ambulance lalu-lalang.

Bayangkan anak kita berangkat sekolah. Lalu datang Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah bilang, ini investasi masa depan, jalan menuju Generasi Emas 2045. Beberapa jam kemudian anak pulang bukan membawa nilai ulangan, tetapi muntah, mules, lemas, bahkan masuk rumah sakit.

Hebat. Investasinya langsung cair dalam bentuk infus.

Di Berastagi, Sumatera Utara, 269 siswa mengalami gangguan setelah menyantap MBG. Ada mengeluhkan ikan dencis pahit dan nasi basi. Adi Tarigan, seorang ayah, hanya bisa melihat anaknya terbaring di RSU Amanda Berastagi.

Ironinya, kondisi korban disebut tidak mengkhawatirkan, bahkan disebut “berita baik”. Berita baik? Dulu, anak pulang membawa rapor bagus. Sekarang, anak pulang dari rumah sakit membawa surat pemeriksaan.

  • Jumat, 14 Agustus 2026, Ketua MPR Ahmad Muzani berdiri di Sidang Tahunan MPR. Ia mengatakan MBG bukan pembagian makanan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Investasi! Sementara di Berastagi, 269 tubuh sedang melakukan audit terhadap investasi tersebut. Hasil audit sementara, perut protes.

Belum selesai. Di Kudus, Jawa Tengah, 118 siswa SMA Negeri 2 Kudus harus mendapat penanganan setelah menyantap makanan. Di SMKN 6 Semarang, 707 pelajar juga terdampak.

Di Sentani, Papua, lebih dari 527 orang, mulai balita, siswa PAUD, SD, SMP hingga orang tua, ikut terkapar setelah menyantap MBG.

Ini bukan daftar menu. Ini sudah seperti daftar hadir rumah sakit. Sampailah kita di Teluk Pakedai, Kalimantan Barat. Duh, daerah gue ni, wak. Di SD Negeri 01, ayam goreng MBG datang dengan fasilitas tambahan, belatung alias ulat yang bentuknya imut.

Belatung! Belatung. Makhluk putih itu menggeliat seperti peserta rapat ketika pembagian anggaran dimulai.

Kepala SPPG Ahmad Pauzi meminta maaf. Bagus. Tetapi ada pertanyaan sederhana, maukah beliau menyantap ayam goreng belatung itu di depan kamera?

Kalau tidak mau, kenapa anak orang disuruh menerima? Muzani bicara tentang manusia sehat dan berkualitas. Realitas berkata, “Sebentar, Pak. Kami sedang muntah.”

Presiden pernah menyebut 28 ribu penerima manfaat mengalami gangguan akibat makanan MBG, 0,0006 persen. Ah, statistik. Angka itu mungkin kecil di kalkulator.

Tetapi bagi orang tua yang melihat anaknya kejang, angka itu 100 persen tragedi. Kalkulator tidak menangis. Spreadsheet tidak menggendong anak ke IGD.

Komnas HAM mencatat hingga Mei 2026 ada 449 kejadian luar biasa keracunan MBG, dengan 38.000 orang terdampak di 36 provinsi. Tiga puluh delapan ribu. Bukan tiga puluh delapan ribu butir beras.

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno sebelumnya juga mengingatkan adanya laporan pengelola SPPG yang tidak amanah, termasuk dugaan pengurangan volume dan kualitas makanan.

Sudah diingatkan. Sudah terjadi. Sudah dievaluasi. Lalu terjadi. Lalu dievaluasi. Evaluasi, evaluasi, evaluasi. Seolah-olah anak bangsa adalah praktikum nasional. Makan dulu, muntah kemudian, evaluasi belakangan.

Inilah bagian absurd. MBG disebut investasi. Negara membayar makanan, keluarga membayar ketakutan. Negara menghitung persentase. Orang tua menghitung napas anaknya.

Negara bicara Generasi Emas. Anak-anak malah mendapat paket Generasi Infus. Negara bicara tata kelola. Belatung menjawab, “Maaf, saya keburu masuk.”

Kami marah. Kami muak. Bukan karena satu kesalahan. Tetapi karena kesalahan itu terus berulang.

Kalau program sebesar ini memang investasi masa depan, jangan jadikan anak sebagai kelinci percobaan berseragam merah putih. Anak-anak seharusnya belajar matematika, bukan menjadi angka statistik. Belajar membaca, bukan membaca hasil laboratorium. Belajar masa depan, bukan muntah karena makanan bergizi.

Sebab investasi paling penting bukan memberi makan. Investasi paling penting adalah memastikan anak pulang dari sekolah dalam keadaan sehat. Kalau tidak, jangan heran bila Generasi Emas bertanya, “Pak, investasi macam apa ini? Kok dividen saya belatung dan paket infus?” (ut)

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *