361 Siswa Berastagi Sumut Keracunan MBG, Hasil Lab Temukan Sejumlah Bakteri
Medan – RNTv, Kasus dugaan keracunan yang dialami 361 siswa SMA di Berastagi, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan setelah pemeriksaan laboratorium menemukan sejumlah bakteri pada sampel makanan dan muntahan korban.
Dokter Ferry Kusmalingga menjelaskan, Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi, sementara Staphylococcus aureus terdeteksi pada ikan, saus, dan sampel muntahan. Adapun E. coli ditemukan pada melon. Sementara itu, pemeriksaan terhadap Salmonella menunjukkan hasil negatif.
Apakah Ada Unsur Kesengajaan atau Pihak SPPG tidak Mengerti Gizi?
Bakteri-bakteri tersebut memang dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan. Staphylococcus aureus, misalnya, dapat menghasilkan toksin yang tahan panas dan memicu mual, muntah, kram perut, hingga diare. Sedangkan Bacillus cereus kerap dikaitkan dengan makanan berbahan nasi yang dimasak dalam jumlah besar atau disimpan terlalu lama pada suhu yang tidak sesuai.
Namun, temuan bakteri tersebut belum otomatis membuktikan bahwa seluruh keluhan yang dialami para siswa disebabkan oleh bakteri tersebut.
Terlebih, terdapat laporan mengenai gangguan ginjal, saraf, hingga masalah daya ingat pada sebagian korban. Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut karena keracunan massal dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk mikroorganisme lain, toksin, bahan kimia, pestisida, maupun logam berat.
Temuan E. coli juga perlu ditelusuri lebih lanjut karena jenis tertentu dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan pada ginjal. Di sisi lain, muntah dan diare berat juga berpotensi menyebabkan dehidrasi serta gangguan elektrolit yang dapat berdampak pada fungsi organ.
Karena itu, hasil laboratorium yang ada sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk langsung menyimpulkan penyebab seluruh gejala korban. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui sumber masalah secara lebih menyeluruh dan memastikan penanganan terhadap para siswa dilakukan dengan tepat.
Apakah pemeriksaan laboratorium terhadap kasus ini perlu diperluas agar penyebab sebenarnya bisa diketahui secara pasti?
Hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Berastagi akhirnya mendapat perhatian serius dari kalangan medis. Seorang dokter umum bernama dr. Ferry Kusmalingga mengurai secara detail temuan kuman pada sampel makanan melalui utas edukatif di akun sosial medianya @dr.ferrykslg.
Berdasarkan laporan lab yang diulasnya, sejumlah bakteri berbahaya terdeteksi menyebar di berbagai menu makanan hingga sampel muntahan para siswa. Dalam ulasannya, dr. Ferry memaparkan bahwa sampel nasi dari sekolah terbukti tercemar bakteri Bacillus cereus, yang biasa berkembang pada makanan berkarbohidrat tinggi yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Sementara itu, sampel ikan dan saus dari sekolah serta muntahan korban positif mengandung Staphylococcus aureus.
Bakteri ini umumnya berpindah dari tangan atau kulit penjamah makanan dan menghasilkan racun tahan panas yang memicu mual, muntah hebat, kram perut, hingga diare akut. Tak kalah mengejutkan, sampel buah melon yang disajikan ke siswa ternyata tercemar bakteri E. coli. Menanggapi kabar adanya korban yang sampai mengalami gagal ginjal akut, dr. Ferry menjelaskan bahwa strain E. coli tertentu seperti Shiga toxin-producing E. coli (STEC) memang berisiko merusak sel darah dan memicu cedera ginjal (Acute Kidney Injury).
Kendati demikian, ia tidak terburu-buru menyimpulkan dan menekankan pentingnya analisa menyeluruh terkait komplikasi berat tersebut. Mengenai keluhan fatal lain seperti gangguan saraf otak dan hilangnya ingatan pada korban, dr. Ferry menilai kondisinya sangat kompleks. Pemeriksaan lab saat ini baru memetakan beberapa panel bakteri, padahal kasus keracunan massal bisa saja dipicu oleh toksin lain, bahan kimia, dehidrasi berat, hingga kondisi syok sepsis yang menuntut investigasi medis lebih rinci.
DPR mencecar Kepala BGN Dalam Rapat Dengar Pendapat
Anggota DPR Menyarankan Kepada Masyarakat untuk Mempersilahkan Menuntut Ganti Rugi Akibat Keracunan Makanan kepada pihak BGN dan SPPG
Di akhir ulasannya, ia mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera melakukan evaluasi total pada standar Dapur MBG agar musibah serupa tidak terulang kembali. (utw)
Promo Iklan
