Pemadam Api dari Kulit Singkong Ternyata Temuan Warga Cirebon

0
IMG-20260831-WA0003

Cirebon – RNTv, Jauh sebelum istilah ubi bombing mencuat dan menjadi sorotan nasional, warga Kabupaten Cirebon bernama Aryanto Misel (71) ternyata telah lebih dulu mengembangkan inovasi pemadam api berbahan dasar kulit singkong. Inovator asal Kecamatan Lemahabang itu mulai mengolah limbah kulit singkong sejak awal tahun 2000-an menjadi bahan pemadam api yang kemudian dikembangkan dalam bentuk bola dan tabung dengan nama Annaro Fire Stop.

Salah satu produknya berupa bola pemadam berlapis styrofoam yang akan pecah ketika terkena panas dan menyebarkan serbuk pemadam. Dalam demonstrasi, bola tersebut dilemparkan ke tong yang terbakar dan dalam hitungan detik serbuk di dalamnya menyebar hingga api berhasil padam.

Menurut Aryanto, kulit singkong mengandung kalium sitrat atau potasium sitrat yang menjadi salah satu bahan dalam formulasi pemadam api buatannya. Bola tersebut dilengkapi pemicu di dalam styrofoam yang berfungsi memecahkan wadah ketika terkena api, sehingga serbuk dapat menyebar dengan cepat ke sumber kebakaran.

Ia menjelaskan bahwa cara kerja produknya bukan sekadar menutup suplai oksigen, melainkan memutus mata rantai reaksi pembakaran.

Selain bentuk bola, Aryanto juga mengembangkan produk dalam bentuk tabung seperti APAR, dengan serbuk kulit singkong diberi tekanan menggunakan nitrogen agar tidak menggumpal akibat kandungan air yang terdapat pada oksigen.

Aryanto menegaskan bahwa inovasi tersebut bukanlah produk baru karena penelitian dan pengembangannya telah dilakukan sejak awal tahun 2000-an.

Sekitar tahun 2010, resep inovasinya bahkan disebut pernah dibeli oleh pihak Jepang setelah ia memperkenalkan produk tersebut saat berada di Bali, dan kemudian diproduksi di Jepang. Meski demikian, Aryanto tetap memperoleh izin untuk memproduksinya secara mandiri.

Dalam perjalanan produksinya, Annaro Fire Stop pernah menerima pesanan hingga 1.000 unit, terdiri dari 500 bola pemadam dan 500 tabung yang dikirim ke Jakarta hingga Sumatra. Hingga kini, produksi inovasi berbahan kulit singkong tersebut masih dilakukan dalam skala industri rumah tangga di kediamannya. (ut)

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *