๐จ๐๐๐ ๐’ ๐ฃ๐๐ก๐๐๐๐๐ง ๐๐๐ก๐๐จ๐ฅ๐๐๐ก ๐๐ก๐ง๐๐๐ฅ๐๐ง๐๐ฆ ๐๐๐๐ ๐
RNTv – Jakarta, Ketika ulama terlalu dekat dengan kekuasaan, yang paling berbahaya bukan sekadar kedekatannya, melainkan ketika kebenaran mulai disesuaikan dengan kepentingan penguasa.
KH. Abdul Qoyyum Manshur, meminjam pendapat Ibnu Hazm dalam ๐๐ญ-๐๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฎ ๐ง๐ช ๐๐ด๐ฉ๐ถ๐ญ๐ช๐ญ ๐๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฎ (cek juga pada short video kanal Youtube Maslakul Huda) sedang memperingatkan bahwa ulama yang menjilat penguasa akan kehilangan integritas agama dan harga dirinya.
Ibnu Hazm bahkan menyebut uang sultan dengan metafora yang keras: sesuatu yang dapat merusak kehormatan seorang ulama ketika diterima bukan untuk menegakkan kebenaran, melainkan untuk membeli loyalitas.
๐๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ป๐๐ฎ ๐ข๐ฏ๐ท๐ฒ๐ธ๐๐ถ๐๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐บ๐ถ ๐๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ป
Masalahnya bukan ulama bertemu penguasa. Ulama boleh menasihati penguasa, bahkan seharusnya berani mengingatkan ketika kekuasaan menyimpang. Yang berbahaya adalah ketika kekuasaan tidak lagi menjadi objek nasihat, tetapi berubah menjadi sumber legitimasi. Di titik itu, agama kehilangan fungsi kritisnya.
Ulama yang seharusnya berkata โ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณโ perlahan berubah menjadi โ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ๐บ๐ข.โ Konflik sejatinya bukan di luar, melainkan di ruang batin ulama itu sendiri: antara mempertahankan integritas atau menukarnya dengan kedekatan, akses, dan pujian.
Ibnu Hazm mengingatkan bahwa ulama salaf justru takut masuk istana karena khawatir tidak akan selamat dari fitnah, akan berubah cenderung berdiam diri atas kemungkaran, atau lebih parah, menjilat penguasa atas kebatilan mereka.
๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐๐๐ฎ๐ ๐ง๐ถ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ป๐ด
Secara psikologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui ๐ฎ๐ฐ๐ณ๐ข๐ญ ๐ญ๐ช๐ค๐ฆ๐ฏ๐ด๐ช๐ฏ๐จ. Seseorang yang merasa memiliki โ๐ฌ๐ณ๐ฆ๐ฅ๐ช๐ต ๐ฎ๐ฐ๐ณ๐ข๐ญโ dari identitas atau amal sebelumnya bisa menjadi lebih permisif terhadap tindakan yang sebenarnya problematis (Merritt et al., 2010).
Dalam konteks ulama, kedekatan dengan kekuasaan sering dibenarkan dengan narasi โ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏโ, โ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎโ, atau โ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐จ๐ข ๐ด๐ต๐ข๐ฃ๐ช๐ญ๐ช๐ต๐ข๐ดโ. Namun tanpa kesadaran kritis, narasi itu bisa menjadi pintu masuk bagi kompromi yang perlahan menggerus integritas.
Secara sosiologis, persoalannya lebih besar. Ketika otoritas agama masuk terlalu jauh ke dalam orbit kekuasaan, otoritas spiritual dapat berubah menjadi modal simbolik bagi legitimasi politik. Studi Bakti et al. (2022) tentang sikopansi menunjukkan bagaimana perilaku menjilat atasan bukan gejala individual, melainkan habitus yang terinstitusionalisasi.
Para penjilat yang minim kapabilitas bisa memolitisasi situasi kerja melalui ritus penindasan, dan pada akhirnya membunuh semangat orang lain untuk berkreasi serta berinovasi. Dalam dunia keulamaan, ini berarti ulama yang menjilat bukan hanya menghancurkan dirinya sendiri, tetapi juga merusak ekosistem keilmuan dan keteladanan di sekitarnya.
Dalam politik, Baturo et al. (2025) menyebut fenomena ini sebagai ๐ฑ๐ญ๐ข๐บ๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ด๐บ๐ค๐ฐ๐ฑ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ต ๐ค๐ข๐ณ๐ฅ yaitu menyatakan loyalitas kepada penguasa otoriter bukan sekadar taktik, tetapi memiliki logika dan konsekuensi panjang. Penguasa membutuhkan validasi sedangkan penjilat membutuhkan perlindungan. Terjadilah simbiosis mutualisme yang toxic.
Bahkan penelitian lintas-negara terhadap lebih dari 12.000 Muslim Sunni di sebelas negara menunjukkan bahwa keterlibatan ulama dalam isu politik dapat menurunkan persepsi masyarakat terhadap otoritas keagamaan mereka, bahkan di antara orang yang sebenarnya sependapat dengan pandangan politik sang ulama. Artinya, ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐น๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ธ ๐ธ๐ฟ๐ถ๐๐ถ๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฝ ๐ธ๐ฒ๐ธ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป, ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ฐ๐ฎ๐บ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ต๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐ฟ๐ฒ๐ฝ๐๐๐ฎ๐๐ถ๐ป๐๐ฎ, ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ธ๐ฟ๐ฒ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ถ๐น๐ถ๐๐ฎ๐ ๐ฎ๐ด๐ฎ๐บ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ.
๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ด๐ฎ ๐ฃ๐ฟ๐ถ๐ป๐๐ถ๐ฝ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐ฒ๐ด๐ฟ๐ถ๐๐ฎ๐
๐โ๏ธ
Karena itu, ukuran keberanian ulama bukan seberapa dekat ia dengan penguasa, tetapi seberapa jauh ia tetap mampu berkata benar ketika kebenaran itu tidak disukai penguasa.
Ulama tidak harus menjadi musuh pemerintah. Tetapi ulama juga tidak boleh menjadi pengeras suara kekuasaan. Sebab ketika agama mulai membenarkan kekuasaan hanya karena ia berkuasa, maka yang sedang kehilangan kehormatan bukan hanya ulama tetapi agama yang seharusnya menjadi penjaga moral kekuasaan.
Ibnu Hazm tidak sedang berbicara tentang strategi politik semata, melainkan tentang harga diri yang tidak bisa dibeli. Seorang ulama bisa saja duduk di kursi kekuasaan, tetapi jika ia mendapatkannya dengan menjual prinsip, integritas agamanya telah mati sebelum jasadnya dikubur.
๐ฌโ๏ธ
Mari berani bertanya: โ๐๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ช๐ฉ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ?โ
Karena integritas agama tidak diuji ketika berkata benar di hadapan orang yang setuju. Ia diuji ketika kebenaran harus disampaikan kepada orang yang memiliki kuasa untuk menghukumnya.
Jangan biarkan kedekatan dengan kekuasaan mengikis kedekatan dengan kebenaran. Sebelum mengulurkan tangan pada penguasa, tanyakan dulu: ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ต๐ฎ๐ป๐ธ๐ฎ๐ป ๐ถ๐ป๐ถ ๐ฝ๐ฟ๐ถ๐ป๐๐ถ๐ฝ, ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ ๐ฝ๐ผ๐๐ถ๐๐ถ? (utw)
Promo Iklanย
