BUMN Ini Rugi Rp 150 Miliar, Lalu Pria Ini Datang dan Mengubah KAI Hanya Dalam 5 Tahun
Jakarta – 2 Agustus 2026, Tahun 2009, seorang bankir berusia 46 tahun menerima tugas yang oleh banyak orang dianggap mustahil: membenahi PT Kereta Api Indonesia, perusahaan negara yang setahun sebelumnya merugi Rp150 miliar, dengan infrastruktur bobrok, stasiun semrawut, penumpang bergelantungan di atap gerbong, pedagang asongan berkeliaran bebas, calo merajalela, dan karyawan bergaji sangat rendah.
Ignasius Jonan bukan orang kereta api. Ia lahir di Singapura pada 21 Juni 1963, besar di Surabaya, lulus Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi dari Universitas Airlangga pada 1986, lalu melanjutkan studi ke The Fletcher School of Law and Diplomacy di Tufts University, Amerika Serikat, dan mengikuti Senior Executive Program di Columbia Business School. Kariernya dibangun di dunia keuangan: ia pernah menjadi Direktur di Citibank Indonesia antara 1999 hingga 2001, lalu menjabat Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia sebelum akhirnya dipercaya memimpin KAI oleh Menteri BUMN Sofyan Djalil.
Hal pertama yang ia lakukan bukan membuat rencana besar di atas kertas. Ia turun ke lapangan dan memeriksa hal yang paling mendasar: berapa gaji karyawan. Yang ia temukan membuatnya miris. Kepala Stasiun Gambir, salah satu posisi paling senior di stasiun tertua dan tersibuk Indonesia, hanya digaji Rp2,7 juta per bulan. Dengan gaji sekecil itu, tidak heran jika korupsi kecil-kecilan menjadi gaya hidup yang sulit dihindari.
Jonan memulai reformasi dari sana. Gaji karyawan dinaikkan secara signifikan. Kepala Stasiun Gambir akhirnya menerima Rp 25 hingga Rp 30 juta per bulan. Sistem promosi diubah dari senioritas menjadi berbasis kinerja. Ribuan karyawan, termasuk banyak yang hanya lulusan sekolah dasar dan menengah pertama, dikirim mengikuti pelatihan di dalam dan luar negeri.
Di level layanan, Jonan menerapkan aturan yang terlihat sederhana tapi efeknya luar biasa: larangan merokok di gerbong, boarding pass wajib, tiket online, penjualan melalui minimarket dan toko ritel, serta kebijakan one seat one passenger yang mengakhiri pemandangan penumpang berdesakan di lantai gerbong atau berdiri di atas atap kereta. Calo tiket dibabat. Pedagang asongan dan pengamen dikeluarkan dari area stasiun dan gerbong. Toilet stasiun dibersihkan dan dirawat setiap hari. Parkir stasiun yang dulu hanya menghasilkan Rp3 juta per hari naik 300 kali lipat menjadi Rp100 juta per hari setelah ditertibkan.
Hasilnya berbicara sendiri dalam angka. Setahun setelah Jonan masuk, KAI membukukan pendapatan Rp4,2 triliun dan keuntungan Rp 83 miliar, berbalik dari kerugian Rp150 miliar setahun sebelumnya. Ketika ia meninggalkan kursi Direktur Utama pada 2014, pendapatan KAI sudah menyentuh Rp 14 triliun dengan laba Rp1,3 triliun. Transformasi itu kemudian diabadikan dalam buku KAI Recipe: Perjalanan Transformasi Kereta Api Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Keberhasilan Jonan di KAI membuat Presiden Joko Widodo memanggilnya pada Oktober 2014 untuk menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Kerja. Dua tahun bertugas, ia direshuffle pada Juli 2016. Tapi dua bulan kemudian Jokowi memanggilnya kembali dan kali ini menunjuknya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menggantikan Arcandra Tahar yang tersandung persoalan kewarganegaraan. Di ESDM, Jonan menjalankan sejumlah kebijakan strategis: mempercepat elektrifikasi desa-desa terpencil, menstabilkan harga bahan bakar minyak, mendorong pengembangan energi terbarukan termasuk geotermal dan energi surya, serta ikut mengawal proses akuisisi saham PT Freeport Indonesia. Ia menyelesaikan masa jabatannya hingga 2019.
Setelah meninggalkan pemerintahan, Jonan kembali ke sektor swasta. Ia sempat menjabat sebagai Komisaris PT Sido Muncul, Komisaris Unilever Indonesia, dan Presiden Komisaris PT Soho Global Health Tbk. Pada awal 2025, ia menjalani operasi jantung di Singapura dan berfokus pada pemulihan.
Cara Jonan memimpin meninggalkan satu pelajaran yang konsisten dari KAI hingga ESDM: ia selalu memulai dari hal yang paling konkret, yang paling bisa disentuh langsung. Bukan dari visi megah di papan presentasi, tapi dari gaji kepala stasiun, kebersihan toilet, dan antrian tiket yang tertib. Dari sana, angka-angka besar mengikuti dengan sendirinya. (utw)
#IgnasiusJonan #TransformasiKAI #Kepemimpinan #BUMN #InspirasiIndonesia
