Dosen UI sentil Kabinet Prabowo: Tak Bisa Cari Investor, Rakyat Jadi Sasaran Pajak?

0
IMG-20260906-WA0036

Jakarta – RNTv, Dosen Universitas Indonesia, Ronnie H. Rusli, melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu mengandalkan pajak sebagai instrumen utama peningkatan penerimaan negara.

Menurutnya, pemerintah melalui para pembantu presiden di kabinet terus-menerus memilih jalan mudah untuk membebani rakyat dengan berbagai pungutan akibat ketidakmampuan mereka dalam menarik investor dan mencari sumber pendanaan alternatif bagi negeri.

Kritik tersebut menyoroti persoalan mendasar mengenai lemahnya kemampuan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, membangun kepercayaan modal asing, serta memperbaiki birokrasi dan kepastian hukum.

Ronnie menilai negara seharusnya tidak bisa terus-menerus menjadikan masyarakat sebagai penopang utama kebutuhan fiskal, melainkan harus mampu merumuskan strategi ekonomi produktif yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan membuka lapangan kerja.

“Tak Bisa Cari Investor, Rakyat Jadi Sasaran Pajak?,” sentil Ronnie H. Rusli di Jakarta, (5/9/2026).

Meskipun diakui bahwa pemerintah di tengah kebutuhan pembangunan yang besar memerlukan pendapatan yang kuat, pendekatan fiskal yang bertumpu secara berlebihan pada pajak dikhawatirkan memicu keresahan.

๐—•๐—ฒ๐—ปar sekali ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฑ๐—ผ๐˜€๐—ฒ๐—ป ๐—จ๐—œ ๐—ถ๐—ป๐—ถ, ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป ๐—ฑ๐˜‚๐—น๐˜‚ ๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜€๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ถ. ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐˜๐˜‚๐—ด๐—ฎ๐˜€ ๐˜‚๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐˜‚๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ผ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฑ๐˜‚๐—ถ๐˜ ๐—น๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜ ๐—ถ๐—ป๐˜ƒ๐—ฒ๐˜€๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐—ฟ๐—ผ-๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐˜‚๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป, bukan malah ambil jalan pintas mindahin beban ke dompet rakyat kecil lewat berbagai kenaikan pajak.

Kalau instrumen negara cuma mejan waktu disuruh meyakinkan investor luar tapi giliran narik pajak langsung gerak cepat, itu namanya malas cari terobosan ekonomi dan cuma menjadikan rakyat sebagai sapi perahan. Jangan sampai korporasi besar atau proyek megah terus-terusan dapat karpet merah dan libur pajak, sementara masyarakat kelas menengah ke bawah malah dikejar-kejar sampai ke pos pengeluaran paling dasar di tengah daya beli yang lagi lesu.

Kritik dari akademisi kayak gini harusnya jadi alarm keras buat tim ekonomi kabinet biar gak cuma main aman dan cari gampangnya saja dalam mengelola APBN.

Kebijakan semacam ini berpotensi menuai protes apabila beban yang ditanggung masyarakat semakin berat tanpa diiringi oleh peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan publik yang memadai. (utw)

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *