Dosen UI sentil Kabinet Prabowo: Tak Bisa Cari Investor, Rakyat Jadi Sasaran Pajak?
Jakarta – RNTv, Dosen Universitas Indonesia, Ronnie H. Rusli, melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu mengandalkan pajak sebagai instrumen utama peningkatan penerimaan negara.
Menurutnya, pemerintah melalui para pembantu presiden di kabinet terus-menerus memilih jalan mudah untuk membebani rakyat dengan berbagai pungutan akibat ketidakmampuan mereka dalam menarik investor dan mencari sumber pendanaan alternatif bagi negeri.
Kritik tersebut menyoroti persoalan mendasar mengenai lemahnya kemampuan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, membangun kepercayaan modal asing, serta memperbaiki birokrasi dan kepastian hukum.
Ronnie menilai negara seharusnya tidak bisa terus-menerus menjadikan masyarakat sebagai penopang utama kebutuhan fiskal, melainkan harus mampu merumuskan strategi ekonomi produktif yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan membuka lapangan kerja.
“Tak Bisa Cari Investor, Rakyat Jadi Sasaran Pajak?,” sentil Ronnie H. Rusli di Jakarta, (5/9/2026).
Meskipun diakui bahwa pemerintah di tengah kebutuhan pembangunan yang besar memerlukan pendapatan yang kuat, pendekatan fiskal yang bertumpu secara berlebihan pada pajak dikhawatirkan memicu keresahan.
๐๐ฒ๐ปar sekali ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฑ๐ผ๐๐ฒ๐ป ๐จ๐ ๐ถ๐ป๐ถ, ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ป๐ด ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ป ๐ฑ๐๐น๐ ๐ธ๐ฟ๐ถ๐๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐๐๐ป๐ด ๐ฎ๐ป๐๐ถ๐ฝ๐ฎ๐๐ถ. ๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ป๐๐ฎ๐ต ๐ถ๐๐ ๐๐๐ด๐ฎ๐ ๐๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐บ๐๐๐ฒ๐ฟ ๐ผ๐๐ฎ๐ธ ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐๐ถ๐ ๐น๐ฒ๐๐ฎ๐ ๐ถ๐ป๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐๐ถ ๐ฎ๐๐ถ๐ป๐ด ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ถ๐ธ๐ถ๐ป ๐ธ๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ท๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฟ๐ผ-๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐๐บ๐ฏ๐๐ต๐ฎ๐ป, bukan malah ambil jalan pintas mindahin beban ke dompet rakyat kecil lewat berbagai kenaikan pajak.
Kalau instrumen negara cuma mejan waktu disuruh meyakinkan investor luar tapi giliran narik pajak langsung gerak cepat, itu namanya malas cari terobosan ekonomi dan cuma menjadikan rakyat sebagai sapi perahan. Jangan sampai korporasi besar atau proyek megah terus-terusan dapat karpet merah dan libur pajak, sementara masyarakat kelas menengah ke bawah malah dikejar-kejar sampai ke pos pengeluaran paling dasar di tengah daya beli yang lagi lesu.
Kritik dari akademisi kayak gini harusnya jadi alarm keras buat tim ekonomi kabinet biar gak cuma main aman dan cari gampangnya saja dalam mengelola APBN.
Kebijakan semacam ini berpotensi menuai protes apabila beban yang ditanggung masyarakat semakin berat tanpa diiringi oleh peningkatan kesejahteraan maupun pelayanan publik yang memadai. (utw)
Promo Iklan
