GIIAS 2026 Jadi Medan Perang Persaingan Mobil EV

0
IMG-20260801-WA0003

Jakarta – 1 Agustus 2026, Pameran otomotif GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 menjadi ajang adu strategi produsen otomotif. Target mereka adalah untuk meningatkan angka penjualan pada paro kedua tahun 2026. Tak hanya mengandalkan model bermesin konvensional (internal combustion engine, ICE), para produsen kendaraan kian agresif membawa kendaraan listrik— mulai dari hybrid electric vehicle (HEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), battery electric vehicle (BEV), hingga range-extended electric vehicle (REEV).

Tren tersebut terlihat dari deretan produk baru yang diperkenalkan selama GIIAS 2026. Toyota, Honda, Hyundai, iCAR hingga Changan sama-sama membawa model elektrifikasi dengan teknologi dan segmen pasar yang berbeda. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Putu Juli Ardika menyatakan optimistis prospek penjualan mobil nasional pada semester kecua 2026 masih positif.

Momentum pertumbuhan selama enam bulan pertama diharapkan berlanjut, salah satunya ditopang kehadiran berbagai model baru di GIIAS. “Di tengah dinamika perekonomian global dan nasional, industri otomotif nasional diproyeksikan berada di jalur positif dan optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan yang berkelanjutan sepanjang tahun 2026,” kata Putu saat Exclusive Media Day GIIAS 2026 di Gedung Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD) City, Tangerang (Banten).

GAIKINDO melihat banyaknya produk baru menjadi sinyal Indonesia masih menjadi pasar strategis bagi produsen otomotif global. Produk yang ditawarkan pun semakin beragam, mulai dari mesin ICE, hybrid hingga kendaraan listrik murni.

Toyota Perluas Pilihan Hybrid dan BEV

Toyota menjadi salah satu pabrikan yang mempertebal portofolio kendaraan elektrifikasi. Produsen asal Jepang tersebut membawa tiga model baru sekaligus pada GIIAS tahun ini. Toyota tetap mempertahankan strategi multi-pathway, yakni menyediakan lebih dari satu teknologi kendaraan rendah emisi. Strategi ini berangkat dari pandangan bahwa kebutuhan dan kesiapan konsumen dalam beralih menuju kendaraan listrik berbeda. President Director PT Toyota-Astra Motor Takuya Yokohama mengatakan, tak ada satu teknologi yang dapat menjawab seluruh kebutuhan mobilitas masyarakat.

“Ketika berbicara mengenai sustainable mobility, kami percaya tidak ada one size fits all. Karena itu Toyota menghadirkan berbagai pilihan mobilitas ramah lingkungan melalui strategi multi-pathway,” kata Takuya.

Salah satu jagoan barunya adalah New Land Cruiser 300 Hybrid EV. Untuk pertama kalinya, Land Cruiser 300 mengadopsi teknologi hybrid dengan kombinasi mesin bensin V35A-FTS V6 3.500 cc twin-turbo dan motor listrik. Di segmen mobil listrik murni, Toyota juga membawa New bZ4X Touring Battery EV. Kehadiran model hybrid dan BEV tersebut memperlihatkan Toyota masih memilih menawarkan beberapa jalur teknologi elektrifikasi secara bersamaan.

Honda Mulai Andalkan Super-ONE

Tren kendaraan listrik juga terlihat dari strategi Honda. PT Honda Prospect Motor (HPM) memperkenalkan Honda Super-ONE sebagai salah satu langkah awal memperkuat kendaraan listriknya di Indonesia. President Director HPM Masanao Kataoka mengatakan, Super-ONE menjadi bagian dari arah elektrifikasi Honda dipasar domestik. Sementara Sales & Marketing Director HPM Yusak Billy menyebut kendaraan tersebut menyasar konsumen yang menginginkan mobil listrik tanpa meninggalkan karakter berkendara Honda.

“Honda Super-ONE kami hadirkan untuk konsumen yang menginginkan kendaraan listrik tanpa kehilangan karakter berkendara khas Honda,” kata Billy.

Namun pasokan Super-ONE masih terbatas. Honda hanya menyediakan 100 unit Super-ONE untuk konsumen Indonesia sepanjang 2026. Angka tersebut bukan merupakan harga resmi Super-ONE untuk konsumen Indonesia.

Hyundai Tambah Pilihan Mobil Listrik

Hyundai juga memperbesar portofolio mobil listriknya. Pada GIIAS 2026, Hyundai membawa Palisade Hybrid, Staria listrik, Ioniq 3 dan Ioniq 9. Selain produk yang siap maupun direncanakan dipasarkan, Hyundai memamerkan prototipe kendaraan listrik Neira Electric yang dikembangkan khusus untuk konsumen Indonesia. President Director PT Hyundai Motors Indonesia, Kenny Lee mengatakan, penambahan model tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memberikan pilihan produk yang lebih luas.

“Dari peningkatan model Hyundai Palisade, penambahan varian Hyundai Staria listrik, dan lanjutan evolusi di keluarga Ioniq lewat Ioniq 3 dan Ioniq 9, inovasi ini merefleksikan komitmen Hyundai memberikan pilihan terbaik untuk konsumen Indonesia,” katanya.

Khusus Ioniq 3, Hyundai belum memasarkannya di Indonesia dan hanya memamerkan kendaraan yang dibawa dari Eropa tersebut selama GIIAS. Sementara Staria listrik sudah dapat dipesan. Adapun Neira Electric masih berstatus prototipe. Hyundai akan melanjutkan pengembangan model tersebut agar sesuai kebutuhan dan gaya hidup konsumen Indonesia sebelum nantinya diluncurkan.

Teknologi REEV Ikut Masuk

Persaingan teknologi elektrifikasi tidak hanya berkutat pada hybrid dan BEV. iCAR Indonesia membawa teknologi REEV melalui iCAR V27. Berbeda dengan BEV murni, V27 memadukan motor listrik dengan mesin bensin yang berfungsi sebagai generator. Model ini melengkapi V23 yang sebelumnya telah hadir sebagai kendaraan listrik berbasis baterai. Country Director iCAR Indonesia Marshall Ma mengatakan, kehadiran V27 membuat perusahaan memiliki pilihan teknologi elektrifikasi yang lebih beragam bagi konsumen Indonesia.

Changan Masuk lewat SUV Listrik

Pendatang baru juga semakin meramaikan persaingan kendaraan listrik. Changan menandai debutnya di GIIAS dengan meluncurkan sport utility vehicle (SUV) listrik Nevo Q05. Mobil listrik tersebut memiliki jarak tempuh hingga 462 kilometer. CEO Changan Indonesia, Setiawan Surya mengatakan peluncuran Nevo Q05 menjadi langkah perusahaan memperluas pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia. “Di ajang GIIAS 2026 ini kami dengan bangga resmi meluncurkan Changan Nevo Q05 di Indonesia,” kata Setiawan.

Berebut Momentum Semester Kedua 2026

Deretan produk tersebut memperlihatkan bahwa strategi produsen mobil pada semester kedua tak lagi bertumpu pada kendaraan berbahan bakar fosil. Mobil bermesin konvensional tetap tersedia, tetapi pilihan teknologi elektrifikasi semakin lebar. Konsumen kini tidak hanya dihadapkan pada pilihan ICE atau BEV. Hybrid hingga REEV turut masuk sebagai alternatif di tengah proses transisi menuju elektrifikasi. Persaingan pun semakin padat.

Sebanyak 43 merek mobil penumpang mengikuti GIIAS 2026, mulai dari pemain lama hingga merek yang baru memasuki Indonesia. Secara keseluruhan, pameran tahun ini diikuti lebih dari 65 merek otomotif global, termasuk mobil komersial (niaga), dan sepeda motor. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menilai GIIAS bukan sekadar tempat produsen mengejar transaksi, tetapi juga menjadi gambaran arah teknologi kendaraan yang akan digunakan masyarakat dalam beberapa tahun mendatang.

“GIIAS bagi saya bukan sekadar ajang pameran atau transaksi. GIIAS adalah tempat masa depan mobilitas Indonesia ditawarkan terlebih dahulu sebelum benar-benar dia tiba di jalan-jalan di Indonesia,” kata Agus, Kamis 30 Juli 2026.

Bagi industri, banyaknya model baru tersebut sekaligus menjadi modal untuk mengejar penjualan pada paruh kedua. GAIKINDO berharap peluncuran produk baru di GIIAS dapat menjaga momentum pasar hingga akhir tahun, di tengah tantangan perekonomian global dan domestik yang masih membayangi industri otomotif. (ut)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *