Artis Nana Mirdad Miris dengan Kondisi Karhutla dan Keluhan Masyarakat di Medsos
RNTv-Jakarta, Aktris Nana Mirdad mengungkapkan kemarahan sekaligus kesedihannya melihat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan. Ia menyoroti penanganan bencana yang dinilainya belum menunjukkan hasil berarti, meskipun kebakaran dan kabut asap telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Keresahan tersebut disampaikan Nana melalui akun Threads miliknya. Ia mengaku tidak habis pikir melihat kondisi masyarakat yang harus menghadapi dampak kabut asap, sementara persoalan karhutla dinilainya belum tertangani secara memadai.
Penanganan Karhutla yang Berlarut-larut di Kalimantan dan Gubernurnya yang Tidak Aware
Nana bahkan mengaku sudah berada pada titik sangat marah sekaligus ingin menangis melihat berbagai respons pejabat terhadap bencana tersebut. Menurutnya, kondisi yang berlangsung begitu lama seharusnya mendapat perhatian serius karena dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Udah di tahap segitu marahnya, segitu pengin nangisnya lihat berbagai respons para petinggi mengenai asap Kalimantan yang bikin beberapa kota lumpuh,” tulis Nana dalam unggahannya, (12/10/2026).
Ia juga mempertanyakan mengapa setelah berbulan-bulan, penanganan karhutla masih dianggap belum memberikan perubahan yang berarti. Nana menilai situasi tersebut tidak bisa terus dibiarkan karena kabut asap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kekhawatiran bagi warga yang terus terpapar polusi udara.
“Udah berbulan-bulan berjalan begini, masih belum ada penanganan yang berarti,” lanjutnya.
Tak hanya menyampaikan kekecewaan, Nana juga melontarkan kritik keras terkait apa yang ia anggap sebagai lambannya respons terhadap bencana. Ia menyinggung persoalan nurani, keserakahan, dan ketidakpedulian yang menurutnya membuat penanganan masalah tersebut terasa begitu lambat.
Dalam unggahan lainnya, Nana turut menyoroti dampak kabut asap di negara tetangga. Ia menyebut adanya kabar mengenai anak-anak yang meninggal dunia akibat terbatasnya jarak pandang, sehingga semakin memperbesar kekhawatirannya terhadap kondisi yang terjadi di kawasan tersebut.
“Di negara tetangga bahkan ada anak-anak yang meninggal karena kurang jarak pandang. Enggak ngerti lagi, sumpah! Kok bisa ya sampai slow begini nurani, keserakahan, dan ketidakpeduliannya. Kita butuh berdoa agar keajaiban terjadi di Kalimantan,” ungkapnya.
Unggahan Nana kemudian mendapat perhatian luas dari warganet. Banyak pengguna media sosial yang ikut menyampaikan keresahan mereka mengenai kondisi kabut asap dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Sebagian warganet juga mempertanyakan keseriusan penanganan karhutla yang terus berlangsung.
Sejumlah pengguna media sosial mengaku merasakan langsung dampak asap di lingkungan tempat tinggal mereka. Ada yang menyebut asap masuk ke dalam rumah meskipun pendingin ruangan dan alat pemurni udara telah digunakan. Situasi tersebut menggambarkan betapa mengganggunya kabut asap bagi warga di daerah terdampak.
Keluhan masyarakat juga berkaitan dengan terganggunya aktivitas sehari-hari dan kekhawatiran terhadap kualitas udara. Ketika asap semakin pekat, jarak pandang dapat berkurang dan risiko gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara menjadi perhatian penting, terutama bagi anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya.
Di sisi lain, petugas di lapangan masih menghadapi berbagai kendala dalam memadamkan kebakaran. Akses menuju titik api yang sulit dijangkau dan terbatasnya sumber air menjadi tantangan dalam upaya pemadaman. Kondisi cuaca dan jarak pandang juga dapat memengaruhi pelaksanaan operasi pemadaman melalui udara di sejumlah lokasi.
Meski demikian, berbagai kendala tersebut tidak menghilangkan tuntutan masyarakat agar penanganan karhutla dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Upaya pemadaman perlu berjalan beriringan dengan langkah pencegahan agar kebakaran tidak terus meluas dan kabut asap tidak semakin membebani warga.
Kritik Nana Mirdad pun kembali mengangkat persoalan karhutla sebagai masalah lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama. Bagi Nana, penderitaan masyarakat akibat asap tidak seharusnya menjadi sesuatu yang dianggap biasa, terlebih ketika dampaknya berlangsung dalam waktu lama.
Melalui unggahannya, Nana berharap muncul kepedulian dan langkah nyata untuk mengatasi bencana tersebut. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mendoakan Kalimantan agar kondisi segera membaik dan warga dapat kembali menjalani aktivitas tanpa dibayangi kabut asap yang mengganggu.
Keluhan Artis Nana Mirdad di Medsos
Aktris Nana Mirdad meluapkan rasa prihatin dan keheranannya usai berselancar di media sosial Threads. Lewat unggahan terbarunya, ia merangkum berbagai isu hangat yang melintas di linimasa hanya dalam waktu tiga menit.
Isu tersebut mulai dari viralnya momen Gubernur Kaltim yang terlihat sarapan di Marina Bay Sands (MBS) Singapura, kontroversi yayasan donasi yang hanya menyalurkan Rp600 ribu dari total Rp14 juta, dugaan kerugian APBN Rp800 miliar lebih terkait pengadaan motor listrik tanpa baterai, kemerosotan IHSG, klaim kebakaran hutan akibat Ring of Fire, hingga kelangkaan BBM yang melanda Bali.
Istri dari Andrew White ini mengaku tak habis pikir dengan kondisi berbagai permasalahan yang terjadi secara beruntun tersebut.
Sambil melempar pertanyaan kepada para pengikutnya mengenai isu lain yang mungkin terlewat, Nana mengungkapkan rasa mirisnya.
“Sampe sakit kepala scrollingnya tapi mau gimana? Ini fakta negaraku 🥺,” tulis Nana Mirdad.
Unggahan ini pun langsung menyedot perhatian netizen yang merasa terwakili oleh keluhan sang aktris terhadap karut-marut kabar nasional terkini. (utw)
Promo Iklan
