Pergeseran Elit Oligarki! Beda Penguasa, Berbeda Pula Cukongnya

0
IMG-20260927-WA0162

RNTv-Jakarta, Diistimewakan Prabowo, Haji Isam diberi karpet merah rampas 62%,2% saham Bayan Resources (perusahan Batu Bara) yg dipegang Law Tuck Kwong.

Tawaran akuisisi saham dinilai tidak masuk akal. Haji Isam hanya menawarkan harga US$ 3 Miliar (Rp 49,5 Triliun). Jauh di bawah harga pasar US$ 26 Miliar (Rp 429 Triliun). Tawaran harga ini mencerminkan diskon harga yg sangat menguntungkan Haji Isam sekira US$ 23 Miliar (396 Triliun) atau 80% dari valuasi harga saham Bayan Resources.

Jika akusisi ini berjalan, Haji Isam akan menguasai Bayan Resources sebagai perusahan Batu Bara dengan jumlah luas lahan konsesi yg sangat besar 126.293 hektar. Berbasis di Kaltim dan Kalsel.

Total produksi menempati urutan terbesar ke 3 di Indonesia dengan volume 68 juta metrik ton per tahun.

Potensi pendapatan rata-rata tahunan US$ 3,4 Miliar (Rp 54 triliun) hingga US$ 3,8 miliar (Rp 63 triliun)

Loyal dan dekat dengan Prabowo, membuat haji Isam makin berkuasa dan makin kaya. Merebut paksa konsesi tambang swasta lainnya dengan biaya murah (premanisme)

Apa dampaknya terhadap rakyat Indonesia ?

Tidak perlu berharap banyak. Hanya sekedar pergantian pemain. Dari loyalis rezim lama ke loyalis Prabowo. Polanya tetap sama. Memanen kekayaan. Perkaya diri pribadi dan oknum kekuasaan.

Siapa Haji Isam?

Nama pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal dengan Haji Isam kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar yang mengaitkannya dengan PT Bank Central Asia Tbk atau BCA. Isu tersebut beredar di media sosial setelah Haji Isam melalui kelompok usahanya melakukan transaksi besar terkait saham PT Bayan Resources Tbk atau BYAN.

Kabar yang beredar menyebut Haji Isam disebut-sebut akan mengakuisisi saham BCA. Informasi tersebut kemudian ramai diperbincangkan oleh pengguna media sosial dan pelaku pasar karena BCA merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia.

Namun, kabar tersebut kemudian dibantah oleh manajemen BCA. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyatakan bahwa informasi mengenai adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA yang beredar di media sosial tidak benar.

BCA juga mengimbau masyarakat agar tidak langsung mempercayai informasi mengenai aksi korporasi yang beredar di media sosial. Informasi mengenai perusahaan, menurut BCA, sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi perusahaan maupun media yang kredibel.

Tidak hanya BCA, pihak Jhonlin Group juga memberikan klarifikasi. Kuasa hukum Jhonlin Group Junaidi Tirtanata menyebut kabar mengenai pencaplokan BCA oleh Haji Isam merupakan informasi palsu dan tidak pernah berasal dari pernyataan resmi manajemen Jhonlin Group.

Lantas, mengapa nama Haji Isam bisa dikaitkan dengan BCA?

Isu tersebut muncul tidak lama setelah adanya transaksi besar di sektor pertambangan. Pada 16 September 2026, PT Jhonlin Baratama menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low terkait saham Bayan Resources.

Perjanjian tersebut mencakup rencana pengalihan 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30 persen dari total saham beredar perusahaan kepada Jhonlin Baratama.

Jumlah saham yang terlibat dalam transaksi tersebut sangat besar. BYAN memiliki total sekitar 33,33 miliar saham beredar, sehingga pengalihan 10 miliar saham tersebut setara dengan sekitar 30 persen kepemilikan.

Berdasarkan harga saham BYAN pada penutupan perdagangan 17 September 2026 yang berada di level Rp11.525 per saham, nilai pasar dari sekitar 10 miliar saham tersebut mencapai sekitar Rp115,25 triliun. Angka tersebut kemudian ikut menjadi perhatian besar di pasar modal.

Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa transaksi tersebut merupakan pembelian saham BYAN, bukan BCA. Penyelesaian transaksi BYAN juga masih tunduk pada sejumlah kondisi pendahuluan yang harus dipenuhi sebelum transaksi benar-benar diselesaikan.

Sebelum transaksi tersebut diumumkan, rumor mengenai kemungkinan Haji Isam masuk ke Bayan Resources juga sempat beredar. Namun, transaksi yang akhirnya diumumkan pada September 2026 adalah kesepakatan antara Jhonlin Baratama dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low untuk pengalihan 30 persen saham BYAN.

Setelah kabar transaksi BYAN mencuat, spekulasi di media sosial berkembang lebih jauh. Sebagian informasi kemudian mengaitkan aksi bisnis tersebut dengan kemungkinan ekspansi Haji Isam ke sektor perbankan melalui BCA.

Padahal, tidak ada konfirmasi resmi dari BCA mengenai rencana tersebut. Sebaliknya, BCA secara terbuka menyatakan bahwa informasi tentang adanya rencana aksi korporasi tertentu yang dikaitkan dengan Haji Isam adalah tidak benar.

Struktur kepemilikan BCA sendiri juga menjadi bagian dari perhatian publik pada tahun ini. BCA menyebut PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sekitar 54,94 persen.

Perubahan yang terjadi pada 2026 berkaitan dengan pengendali terakhir PT Dwimuria Investama Andalan setelah Bambang Hartono meninggal dunia. Berdasarkan keterbukaan informasi BCA pada 31 Juli 2026, Robert Budi Hartono menjadi pengendali terakhir BCA, sementara kepemilikan Robert di PT Dwimuria Investama Andalan tetap 51 persen.

Dengan demikian, dua peristiwa yang sedang ramai diperbincangkan tersebut sebenarnya berbeda.

Di satu sisi, memang ada transaksi besar yang melibatkan kelompok usaha Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama untuk mengambil alih sekitar 30 persen saham Bayan Resources.

Di sisi lain, kabar mengenai rencana Haji Isam mengakuisisi BCA masih sebatas isu yang beredar di media sosial dan telah dibantah secara resmi oleh manajemen BCA serta pihak Jhonlin Group.

Besarnya nilai transaksi BYAN membuat nama Haji Isam kembali menjadi perhatian pasar. Namun, transaksi tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa ada transaksi atau rencana akuisisi terhadap BCA.

Bagi investor maupun masyarakat, perkembangan mengenai aksi korporasi perusahaan terbuka tetap perlu dilihat melalui keterbukaan informasi resmi. Terlebih ketika sebuah informasi menyangkut transaksi bernilai besar dan berpotensi memengaruhi keputusan investasi.

Untuk saat ini, fakta yang telah diumumkan adalah rencana pengalihan 30 persen saham BYAN kepada Jhonlin Baratama, sementara isu mengenai Haji Isam akan mencaplok BCA telah dibantah oleh pihak-pihak terkait. (utw)

 

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *