Perbandingan Proyek Ambisius Jokowi vs Prabowo, IKN Rp 75 T, MBG Tembus Rp 168,5 T
Jakarta, RNTv, Dua Rezim, dua program besar dan dua arah investasi negara yang berbeda. Pada era Presiden Joko Widodo, pembangunan Ibu Kota Nusantara menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah.
Dalam periode 2022 sampai 2024, realisasi anggaran IKN tercatat sekitar Rp 75,8 triliun, terdiri dari Rp 5,5 triliun pada 2022, Rp 27 triliun pada 2023, dan sekitar Rp 43,3 triliun pada 2024. Namun hingga saat ini, hasilnya belum dirasakan masyarakat dan berpotensi mangkrak.
Memasuki pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, perhatian besar APBN juga mengalir ke program Makan Bergizi Gratis.
Sepanjang 2025, realisasi MBG mencapai Rp51,5 triliun. Lalu hingga 27 Agustus 2026, Kepala BGN Sudaryono menyebut sekitar Rp117 triliun telah digunakan untuk program tersebut. Jika kedua tahun dijumlahkan, realisasi MBG telah mencapai sekitar Rp168,5 triliun.
Sederet Fakta Bahwa Proyek MBG Adalah Pemborosan
Menko Zulhas Menyoroti kerugian dari MBG per bulan adalah Rp. 1 Triliun.
Artinya, dalam waktu kurang dari dua tahun, realisasi MBG sudah sekitar 2,2 kali realisasi pembangunan IKN selama tiga tahun pertamanya.
Selisihnya mencapai sekitar Rp 92,7 triliun, dan tahun anggaran 2026 bahkan belum selesai. Namun angka tersebut tidak bisa serta-merta digunakan untuk menentukan program mana yang lebih baik.
Asing Soroti IKN yang Jadi Kota Hantu
IKN merupakan investasi infrastruktur jangka panjang untuk membangun pusat pemerintahan baru, sedangkan MBG merupakan belanja berulang yang menyasar konsumsi gizi dan pembangunan sumber daya manusia dalam skala nasional. Yang terlihat jelas adalah besarnya skala fiskal yang ditempatkan pada dua prioritas berbeda.
Dari membangun ibu kota baru, kini pemerintah mengalokasikan dana sangat besar untuk membangun kualitas generasi baru.
Dua anggaran besar dibuang sia-sia hanya untuk mengejar ambisi para penguasa yang lebih mementingkan ego-nya daripada melihat kondisi rakyatnya saat ini.
Menurut Anda, dari dua jenis proyek ambisius dari dua rezim ini, mana yang dampaknya akan lebih besar bagi Indonesia dalam 10 hingga 20 tahun mendatang? (ut)
Promo Iklan
