BEM SI Sentil Gibran: Jika Tak Mampu, Sebaiknya Mundur Saja

0
IMG-20260907-WA0024

Jakarta – RNTv, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat kritik dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan.

Koordinator BEM SI Kerakyatan, Satria Noval Putra Ansar, menilai kepemimpinan anak muda seharusnya tidak hanya dinilai berdasarkan usia, tetapi juga dari sikap, pemikiran, dan keberpihakan terhadap masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Satria dalam tayangan YouTube Forum Aktual pada Minggu, 6 September 2026, dalam diskusi yang turut membahas evaluasi kepemimpinan nasional.

Menurutnya, jika seorang pemimpin dinilai tidak cakap dan tidak mampu mewakili aspirasi anak muda, mengundurkan diri dapat menjadi pilihan.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan kritik politik dari BEM SI Kerakyatan terhadap Gibran, bukan kesimpulan independen mengenai kinerja Wakil Presiden.

Diskusi tersebut juga membahas evaluasi terhadap dua periode pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. BEM SI Kerakyatan menyampaikan kritik terhadap kondisi demokrasi, revisi Undang-Undang KPK, persoalan etika penyelenggaraan negara, hingga proses yang berkaitan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90/PUU-XXI/2023. Penilaian mengenai dampak berbagai kebijakan tersebut merupakan posisi yang disampaikan organisasi mahasiswa tersebut.

BEM SI Kerakyatan sebelumnya juga melakukan sejumlah aksi simbolik dalam menyampaikan evaluasinya terhadap pemerintahan Jokowi, termasuk pemberian rapor merah dan aksi di depan Gedung DPR/MPR RI.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi sasaran kritik BEM SI Kerakyatan. Koordinator BEM SI Kerakyatan, Satria Noval Putra Ansar, menilai kepemimpinan anak muda tidak cukup hanya dilihat dari usia, tetapi juga dari sikap, kualitas pemikiran, keberanian mengambil keputusan, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Pernyataan dari Deny Indrayana terhadap Wapres Gibran 

Kritik itu pun membuat posisi Gibran sebagai pemimpin muda kembali dipertanyakan. BEM SI menegaskan bahwa label “anak muda” saja dianggap belum cukup menjadi ukuran kepemimpinan jika tidak dibarengi kemampuan membawa kepentingan masyarakat.

Polemik ini menunjukkan bahwa peran dan kinerja pemimpin muda tetap menjadi bagian dari perdebatan publik, terutama terkait bagaimana generasi muda direpresentasikan dalam pemerintahan.

Menurut Anda bagaimana? Apa indikator yang seharusnya digunakan masyarakat untuk menilai kinerja seorang pemimpin muda secara objektif? (utw)

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *