Muktamar NU Rasa Panggung Politisi
Jakarta – RNTv, Pembukaan Muktamar NU ke-35 di Jombang terasa lebih menyerupai forum pertemuan para politisi daripada sebuah momentum besar organisasi keulamaan. Sejumlah tokoh NU, termasuk para kiai sepuh, terlihat relatif minim dalam kehadiran. Padahal, Muktamar merupakan forum tertinggi NU yang semestinya menjadi ruang bagi para ulama.
Sambutan Ketua Panitia Pelaksana, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul, juga terasa lebih seperti laporan seorang pejabat kabinet kepada presiden.
Banyak bagian pidatonya menyoroti program bantuan pemerintah serta posisi NU dalam hubungannya dengan Presiden.
Padahal, dalam forum sebesar Muktamar, pertanggungjawaban utama semestinya disampaikan kepada warga Nahdliyin sebagai bagian dari umat yang diwakili.
Pernyataan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, yang berharap Presiden Prabowo Subianto dapat kembali membuka Muktamar NU berikutnya juga menimbulkan tafsir politik.
Mengingat Muktamar dilaksanakan lima tahun sekali, pernyataan tersebut dapat dipersepsikan sebagai bentuk dukungan politik terhadap Prabowo untuk periode berikutnya.
Kesan politis semakin kuat ketika jajaran politisi dan sejumlah pejabat kabinet, termasuk para ketua umum partai politik, tampak menempati posisi terdepan. Sementara itu, kehadiran keturunan atau keluarga dari para tokoh pendiri NU justru terlihat sangat terbatas. Ruang yang seharusnya menjadi panggung utama bagi ulama dan kultur pesantren seakan lebih banyak diisi oleh wajah-wajah politik.
Padahal, kebesaran NU hingga mampu bertahan selama lebih dari satu abad bukan semata-mata karena elite yang berada di panggung. NU tumbuh dan bertahan dari “lilin-lilin kecil” yang terus menyala di surau, masjid, madrasah, dan pesantren. Dari tempat-tempat sederhana itulah kultur NU dirawat, tradisi diwariskan, dan kehidupan Nahdliyin terus tumbuh.
Jangan sampai panggung besar Muktamar justru membuat kita lupa bahwa kekuatan utama NU sesungguhnya berada pada lilin-lilin kecil yang selama ini tidak banyak terlihat, tetapi tidak pernah berhenti menyala. (utw)
Promo Iklan
