Pemain Timnas Indonesia Ragnar Oratmangoen, Mualaf di Usia 15 Tahun

0
IMG-20260828-WA0049

Jakarta, RNTv, Bayangkan seorang anak berusia 15 tahun mengatakan kepada orang tuanya:

“Aku ingin masuk Islam.”

Yang terjadi bukan pertengkaran.
Bukan penolakan. Justru orang tuanya merasa senang.

Itulah kisah Ragnar Anthonius Maria Oratmangoen, pemain Diaspora Tinnas sepakbola Indonesia 

Lahir dan besar di Belanda dalam keluarga Kristen, Ragnar mulai mengenal Islam ketika berada di akademi sepak bola NEC Nijmegen.

Ia memiliki seorang teman Muslim yang sering mengajaknya ke masjid.

Awalnya, Ragnar hanya menemani.

Namun setiap kali berada di sana, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Ada ketenangan. Ada kedamaian.

Rasa penasaran itu kemudian berubah menjadi pencarian. Ia mulai mempelajari Islam dan perlahan merasa bahwa agama ini membuat dirinya lebih tenang, sabar, dan terarah.

Ketika akhirnya Ragnar menyampaikan keputusannya kepada keluarga, respons orang tuanya justru mengejutkan.

Mereka mendukung.

Bukan karena mereka berpindah keyakinan bersamanya, tetapi karena mereka melihat perubahan positif dalam diri anak mereka.

Ragnar menjadi lebih baik.

Dan sejak saat itu, Islam menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Di tengah karier sebagai pesepak bola profesional, ia berusaha menjaga salat lima waktu dan menjalankan puasa Ramadan.

Ketika pertama kali datang ke Indonesia pada Ramadan 2024, ia bahkan mengaku takjub mendengar azan berkumandang dari berbagai penjuru.

Kemudian perjalanan itu membawanya menjadi bagian dari Timnas Indonesia.

Pada debutnya melawan Vietnam, Ragnar mencetak gol dan membantu Indonesia menang 3-0.

Seolah-olah perjalanan panjang itu menemukan sebuah titik temu:

Dari seorang anak keturunan Indonesia di Belanda, menjadi bagian dari bangsa leluhurnya.

Dan kini ia dikenal dengan panggilan yang akrab di telinga suporter:

“Wak Haji.”

Namun di balik julukan itu, ada kisah yang jauh lebih dalam.

Kisah seorang remaja yang berani mencari kebenaran.

Keluarga yang memilih memahami daripada menghakimi.

Dan seorang manusia yang menemukan ketenangan melalui perjalanan spiritualnya.

Karena terkadang, menjadi orang tua bukan tentang memaksakan anak mengikuti jalan kita.

Tetapi tentang memberikan ruang agar ia menemukan jalannya sendiri—dan tetap mencintainya ketika ia memilih jalan tersebut.

Itulah yang membuat kisah Ragnar begitu menginspirasi.

Ia menemukan Islam di usia 15 tahun.
Dan keluarganya mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menghilangkan kasih sayang. (ut)

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *