Wamentan Ada Dua Orang, Sinyal Menteri Pertanian Amran akan Diganti?
RNTv-Jakarta, Pelantikan Alim Setiawan Slamet sebagai Wakil Menteri Pertanian memunculkan pertanyaan mengenai arah kepemimpinan Kementerian Pertanian.
Kehadiran akademisi yang lama berkecimpung di bidang pertanian berdampingan dengan mantan jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa memunculkan spekulasi baru di ruang publik, termasuk kemungkinan perubahan komposisi kepemimpinan di kementerian yang dipimpin Andi Amran Sulaiman.
Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, sebagai Wakil Menteri Pertanian di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026
Pelantikan tersebut membuat Kementerian Pertanian kini memiliki dua wakil menteri setelah Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa lebih dahulu dilantik pada 1 Oktober 2026.
Penambahan wakil menteri ini menarik perhatian karena menghadirkan dua figur dengan latar belakang profesional yang berbeda. Muhammad Saleh Mustafa memiliki rekam jejak panjang di lingkungan militer, sedangkan Alim Setiawan Slamet datang dari dunia akademik, riset, manajemen pertanian, dan pengembangan ekonomi perdesaan.
Kombinasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pembagian tugas di lingkungan Kementerian Pertanian, terutama ketika pemerintah tengah menghadapi tantangan peningkatan produksi pangan, penguatan kesejahteraan petani, dan pelaksanaan berbagai program strategis pertanian.
Di media sosial, muncul pula pertanyaan apakah penempatan dua wakil menteri merupakan bagian dari persiapan menuju pergantian Menteri Pertanian. Pertanyaan tersebut masih berada dalam wilayah spekulasi publik.
Alim Setiawan Slamet, Akademisi Pertanian yang Kini Mendampingi Amran
Alim Setiawan Slamet bukan figur yang datang dari luar ekosistem pertanian. Sebelum menerima penugasan dari Presiden Prabowo, ia menjabat sebagai Rektor IPB University, perguruan tinggi yang dikenal memiliki tradisi panjang dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pertanian.
Alim lahir di Demak, Jawa Tengah, pada 27 Februari 1982. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di bidang Teknologi Industri Pertanian di IPB, kemudian meraih gelar doktor dalam bidang agribisnis dan ekonomi pertanian di Ehime University, Jepang.
Bidang keahliannya meliputi manajemen strategis, riset operasional, manajemen rantai pasok, dan pemasaran pertanian. Keahlian tersebut berkaitan dengan persoalan yang dihadapi sektor pertanian, mulai dari efisiensi produksi hingga distribusi dan pemasaran hasil panen.
Pengalamannya tidak hanya berkutat pada kegiatan akademik. Alim juga terlibat dalam pengembangan program One Village One CEO atau OVOC yang dikembangkan IPB University. Program tersebut berorientasi pada penguatan ekonomi perdesaan melalui pengembangan badan usaha milik desa, produk unggulan lokal, kewirausahaan, dan kemitraan usaha.
Dengan latar belakang itu, penunjukan Alim membuka peluang bagi Kementerian Pertanian untuk memperkuat hubungan antara penelitian perguruan tinggi dan kebutuhan petani di lapangan.
Persoalannya, dunia akademik dan birokrasi pemerintahan memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Hasil penelitian yang menjanjikan belum tentu langsung dapat diterapkan secara luas. Diperlukan dukungan anggaran, kebijakan yang tepat, pendampingan petani, serta sistem distribusi teknologi yang mampu menjangkau wilayah produksi.
Jika pengalaman Alim dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang operasional, kontribusinya berpotensi terlihat pada pengembangan teknologi budidaya, peningkatan nilai tambah komoditas, penguatan kelembagaan petani, dan efisiensi rantai pasok.
Dalam keterangan resmi Kementerian Pertanian pada 16 Oktober 2026, Alim menyampaikan bahwa ia akan membantu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan, memodernisasi pertanian, dan mendorong hilirisasi. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi.
Pernyataan tersebut memberikan gambaran awal mengenai arah kontribusi yang ingin dibawanya ke dalam pemerintahan.
Muhammad Saleh Mustafa dan Alim, Dua Latar Belakang Berbeda dalam Satu Kementerian
Sebelum Alim dilantik, Prabowo lebih dahulu mengangkat Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian pada 1 Oktober 2026. Saleh sebelumnya menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat dan memiliki pengalaman panjang di lingkungan TNI.
Kehadiran Saleh menambah figur dengan pengalaman koordinasi dan kepemimpinan organisasi ke dalam jajaran Kementerian Pertanian. Saat menyambutnya pada 5 Oktober 2026, Amran menyatakan harapan agar kehadiran wakil menteri tersebut dapat mempercepat pelaksanaan program strategis kementerian.
Kini, dengan masuknya Alim, terdapat dua wakil menteri yang memiliki latar belakang berbeda. Satu datang dari pengalaman militer, sedangkan yang lain berasal dari lingkungan akademik dan pengembangan ilmu pertanian.
Susunan tersebut dapat dibaca sebagai upaya memperkuat kapasitas pelaksanaan program dari sisi koordinasi sekaligus keilmuan. Namun, pembagian tanggung jawab secara terperinci antara keduanya tetap perlu dilihat dari keputusan dan pelaksanaan tugas resmi pemerintah.
Kementerian Pertanian menangani persoalan yang luas, termasuk produksi pangan, distribusi pupuk, mekanisasi, perlindungan tanaman, pengembangan komoditas, hingga tata niaga hasil pertanian. Banyaknya agenda tersebut membutuhkan koordinasi lintas direktorat, pemerintah daerah, lembaga penelitian, dan pelaku usaha.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan semata-mata mengapa kementerian membutuhkan dua wakil menteri, melainkan bagaimana kedua pejabat tersebut akan membagi pekerjaan, mempercepat keputusan, dan memastikan program pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan petani.
Apakah Dua Wamentan Menjadi Sinyal Pergantian Amran?
Inilah pertanyaan yang berpotensi terus menjadi perbincangan setelah pelantikan Alim. Penambahan wakil menteri di kementerian yang telah memiliki seorang menteri memang dapat memunculkan spekulasi mengenai konfigurasi kepemimpinan dan kemungkinan perubahan susunan kabinet.
Akan tetapi, keberadaan dua wakil menteri tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seorang menteri akan diganti. Dalam kasus Kementerian Pertanian, informasi resmi mengenai pelantikan Alim justru menyebutkan penugasannya untuk membantu Amran menjalankan program strategis nasional. Belum ada pengumuman resmi yang menyatakan bahwa pengangkatan tersebut merupakan persiapan pergantian Menteri Pertanian.
Dari sisi politik pemerintahan, spekulasi mengenai pergantian pejabat dapat muncul setiap kali terjadi perubahan komposisi kabinet
Di sisi lain, penempatan akademisi yang memiliki latar belakang pertanian pada posisi strategis memang dapat mengundang perhatian. Alim mempunyai pengalaman pendidikan, penelitian, dan pengelolaan perguruan tinggi yang relevan dengan sektor yang kini ditanganinya. Hal itu membuat publik memiliki alasan untuk mencermati bagaimana kontribusinya akan berkembang, tanpa harus langsung mengaitkannya dengan adanya rencana pergantian Amran.
Dengan demikian, narasi pergantian menteri masih perlu ditempatkan sebagai pertanyaan publik yang belum terjawab, bukan sebagai arah kebijakan yang telah diputuskan.
Tantangan Alim Bukan Sekadar Membawa Nama IPB ke Kementan
Masuknya Alim ke pemerintahan juga membawa harapan terhadap pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan pertanian yang selama ini dihadapi petani.
Indonesia membutuhkan peningkatan produktivitas yang tidak hanya bergantung pada perluasan areal tanam. Ketersediaan air, kualitas benih, serangan organisme pengganggu tumbuhan, kesuburan tanah, efisiensi penggunaan pupuk, dan kepastian pasar turut menentukan hasil usaha tani.
Pada saat yang sama, kenaikan produksi belum selalu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan petani. Biaya sarana produksi, panjangnya rantai distribusi, keterbatasan pengolahan pascapanen, dan lemahnya posisi tawar petani dapat mengurangi keuntungan yang diterima di tingkat usaha tani.
Latar belakang Alim dalam manajemen rantai pasok dan pemasaran pertanian menjadi relevan untuk menghadapi persoalan tersebut. Penguatan hilirisasi juga dapat membuka peluang agar komoditas tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Namun, ukuran keberhasilan penugasan ini tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya riset yang dibawa ke kementerian atau program kerja sama yang dibangun dengan perguruan tinggi. Dampaknya perlu terlihat dalam penerapan teknologi di tingkat petani, efisiensi biaya produksi, akses pasar, serta peningkatan nilai tambah yang dapat dirasakan pelaku usaha pertanian.
Kehadiran dua wakil menteri kini menempatkan Kementerian Pertanian pada susunan kepemimpinan yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Publik akan mencermati bagaimana pembagian peran Saleh Mustafa dan Alim Setiawan Slamet berjalan, bagaimana keduanya berkoordinasi dengan Amran, serta apakah tambahan kepemimpinan tersebut menghasilkan percepatan yang nyata dalam pelaksanaan program pertanian nasional. (utw)
Promo Iklan
