JIS yang Dibangun Era Anies Baswedan, Raih Penghargaan Internasional di Singapura

0
IMG-20261014-WA0065

RNTv-Jakarta, Jakarta International Stadium (JIS) kembali menjadi sorotan publik. Namun, kali ini bukan karena polemik rumput, akses stadion, ataupun perdebatan politik yang pernah ramai di media sosial. Stadion megah di Jakarta Utara yang pembangunan fisiknya berlangsung pada era Gubernur Anies Baswedan tersebut justru berhasil meraih penghargaan internasional di Singapura.

Sebuah pencapaian yang menarik, mengingat JIS sebelumnya lebih sering dibicarakan karena berbagai kontroversi dibandingkan kecanggihan konstruksinya.

Pada 7 Oktober 2026, JIS dinobatkan sebagai pemenang kategori Structural Engineering dalam ajang Year in Infrastructure Awards 2026 yang diselenggarakan Bentley Systems.

Penghargaan ini diterima PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk atau WIKA Gedung melalui proyek pembangunan atap buka-tutup raksasa JIS. Prestasi tersebut menjadi pengakuan internasional terhadap keberhasilan penerapan teknologi dan kemampuan rekayasa struktur dalam pembangunan salah satu stadion terbesar di Indonesia.

Bangga! JIS Buatan anak Bangsa Raih Penghargaan Internasional

Penghargaan ini bukan sekadar diberikan karena stadion terlihat megah atau memiliki kapasitas penonton yang besar. Bentley Systems merupakan perusahaan teknologi internasional yang menyediakan perangkat lunak untuk perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur. Melalui penghargaan tahunannya, perusahaan tersebut mengapresiasi proyek-proyek yang berhasil memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan tantangan konstruksi dan menghasilkan inovasi nyata.

Persaingannya pun tidak sederhana. Ajang tahun 2026 menerima lebih dari 300 proyek dari 53 negara, dengan 36 proyek terpilih sebagai finalis dalam 12 kategori. Dalam kategori rekayasa struktur, proyek JIS bersaing dengan proyek dari Amerika Serikat dan Filipina. Setelah melalui penilaian, JIS berhasil keluar sebagai pemenang, menjadikan pencapaian WIKA Gedung sebagai salah satu prestasi penting bagi dunia konstruksi Indonesia.

Namun, untuk memahami mengapa penghargaan ini menarik perhatian, perjalanan pembangunan JIS perlu dilihat sejak awal. Stadion tersebut bukan proyek yang muncul begitu saja pada satu masa pemerintahan. Rencana pembangunan fasilitas olahraga bertaraf internasional di kawasan Taman BMW, Jakarta Utara, sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, bahkan sebelum Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Gagasan pembangunan stadion di kawasan tersebut telah bergulir sejak masa pemerintahan Fauzi Bowo. Rencananya kemudian terus dibahas pada era Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, hingga Djarot Saiful Hidayat. Namun, berbagai persoalan, termasuk urusan lahan dan persiapan pembangunan, membuat stadion yang diharapkan masyarakat Jakarta belum juga terwujud.

Memasuki Pilkada DKI Jakarta 2017, pembangunan stadion kembali menjadi perhatian

Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno membawa janji menghadirkan stadion bertaraf internasional yang dapat menjadi kebanggaan warga Jakarta, terutama para pendukung Persija. Stadion tersebut diharapkan memiliki kualitas yang mampu dibandingkan dengan stadion terkenal dunia, seperti Old Trafford di Inggris dan Santiago Bernabeu di Spanyol.

Janji tersebut tentu terdengar ambisius. Membangun stadion sekelas fasilitas sepak bola ternama dunia bukan hanya membutuhkan anggaran besar, tetapi juga perencanaan matang, teknologi konstruksi, serta kemampuan menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan. Apalagi Jakarta merupakan kota dengan kepadatan penduduk tinggi dan kondisi lingkungan yang menghadirkan tantangan tersendiri bagi proyek pembangunan berskala besar.

Setelah melewati berbagai tahapan persiapan, pembangunan JIS akhirnya memasuki fase penting pada 14 Maret 2019. Anies Baswedan yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya proyek. Pembangunan dilaksanakan melalui PT Jakarta Propertindo atau Jakpro, dengan melibatkan konsorsium perusahaan konstruksi yang mencakup WIKA Gedung, PT Pembangunan Perumahan, dan PT Jaya Konstruksi.

Pengerjaannya kemudian berlangsung selama sekitar tiga tahun, termasuk melewati masa pandemi COVID-19 yang membawa tantangan tambahan bagi dunia konstruksi. Pada 24 Juli 2022, JIS akhirnya diresmikan sebagai stadion baru milik Jakarta. Bangunan yang sebelumnya menjadi bagian dari janji kampanye tersebut telah berdiri dengan kapasitas sekitar 82.000 penonton, lengkap dengan berbagai fasilitas olahraga dan atap yang dapat dibuka serta ditutup.

Anies Baswedan : JIS Adalah Karya Anak Bangsa

Luar biasa saat mendengar cerita Anies Baswedan, semua ini dibangun dengan campur tangan anak-anak Indonesia semua, dari aspal saja, mereka membuatnya sendiri.

Di balik tampilan stadion yang megah, terdapat pekerjaan teknik yang jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar. Salah satu tantangan terbesarnya adalah pembangunan struktur atap raksasa yang membentang di atas tribun dan lapangan. Bagian inilah yang kemudian menjadi pusat perhatian dalam penghargaan internasional yang diraih JIS pada 2026.

Struktur atap JIS memiliki ukuran sekitar 269 kali 244 meter, dengan bobot struktur utama mencapai kurang lebih 3.900 ton. Dalam proses pemasangannya, struktur tersebut harus diangkat secara bersamaan hingga ketinggian sekitar 70 meter. Artinya, tim konstruksi harus mengangkat rangka baja dengan berat hampir empat juta kilogram secara terukur dan memastikan seluruh bagian tetap stabil selama proses berlangsung.

Pekerjaan tersebut tentu tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan alat berat. Setiap titik pengangkatan harus diperhitungkan agar beban terdistribusi secara merata dan struktur tidak mengalami kerusakan. Kesalahan perhitungan dapat menimbulkan risiko serius, terutama ketika pekerjaan dilakukan pada ketinggian puluhan meter dengan ukuran rangka yang sangat besar.

Tantangan semakin berat karena JIS dibangun di kawasan pesisir utara Jakarta yang memiliki karakteristik tanah relatif lunak dan muka air tanah tinggi. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus pada perencanaan pondasi dan kestabilan bangunan. Stadion harus mampu menopang beban struktur yang besar sekaligus tetap memenuhi ketentuan keselamatan bagi puluhan ribu penonton.

Keistimewaan lainnya terletak pada bagian atap yang dapat bergerak. Sistem tersebut menggunakan struktur bergerak berbobot sekitar 300 ton untuk menutup bukaan seluas kurang lebih 4.560 meter persegi. Proses membuka atau menutup atap membutuhkan waktu sekitar 30 menit, sehingga stadion memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menyesuaikan kegiatan dengan kondisi cuaca.

Untuk menangani kerumitan itu, tim pembangunan memanfaatkan teknologi digital dalam proses perencanaan dan konstruksi. Salah satunya adalah SYNCHRO 4D, perangkat yang membantu menggambarkan tahapan pembangunan melalui simulasi komputer. Teknologi ini memungkinkan urutan pekerjaan, kebutuhan alat, dan potensi gangguan di lapangan dipelajari sebelum pelaksanaan sebenarnya.

Selain itu, digunakan pula STAAD.Pro untuk membantu menganalisis kekuatan dan kestabilan struktur. Melalui perangkat tersebut, tim dapat memperhitungkan bagaimana bangunan menerima beban dan memastikan rancangan memenuhi kebutuhan teknis. Penggunaan teknologi menjadi sangat penting karena struktur dengan ukuran sebesar JIS membutuhkan ketelitian tinggi dalam setiap tahapannya.

Menurut WIKA Gedung, penerapan teknologi digital membantu mengidentifikasi dan menyelesaikan lebih dari 100 potensi benturan antar bagian konstruksi sebelum pekerjaan fisik dimulai. Benturan yang dimaksud merupakan kondisi ketika bagian struktur atau jalur pekerjaan berpotensi saling mengganggu. Dengan mendeteksi persoalan lebih awal, tim dapat memperbaiki rancangan tanpa harus menunggu munculnya kesalahan di lokasi pembangunan.

Pendekatan tersebut dilaporkan memberikan hasil yang cukup besar. Beban pengangkatan dapat dioptimalkan sekitar tujuh persen, sementara pekerjaan struktur raksasa selesai tiga bulan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan. Bagi proyek konstruksi bernilai besar, efisiensi seperti ini penting karena berkaitan dengan penggunaan tenaga kerja, peralatan, material, dan waktu pengerjaan.

WIKA Gedung juga melaporkan penghematan sekitar 753.000 jam kerja, potensi pengurangan emisi karbon tahunan sebesar 2.300 ton, serta limbah material yang dijaga di bawah tujuh persen. Selain itu, proyek tersebut mencatat 2,5 juta jam kerja tanpa kecelakaan menurut laporan perusahaan. Angka-angka ini memperlihatkan bagaimana penggunaan teknologi tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan bangunan, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan pengelolaan risiko selama konstruksi.

Keberhasilan tersebut menjadi alasan kuat mengapa proyek JIS mampu menarik perhatian dalam ajang internasional. Penghargaan yang diraih bukan semata-mata mengapresiasi besarnya stadion, melainkan kemampuan perusahaan konstruksi Indonesia menyelesaikan pekerjaan teknik yang kompleks. Ini menjadi bukti bahwa tenaga ahli Indonesia juga memiliki kemampuan untuk mengerjakan proyek dengan tantangan teknologi tinggi.

Menariknya, pengakuan internasional ini datang setelah JIS melewati perjalanan yang cukup ramai dalam pemberitaan nasional

Sejak selesai dibangun, stadion tersebut beberapa kali menjadi bahan perdebatan publik, terutama karena hubungannya dengan masa kepemimpinan Anies Baswedan. Pembahasan mengenai JIS pun tidak jarang bergeser dari persoalan teknis menjadi perdebatan politik.

Salah satu polemik yang paling banyak menyita perhatian muncul pada 2023, menjelang penyelenggaraan Piala Dunia U-17 di Indonesia. Kondisi rumput JIS, akses menuju stadion, serta fasilitas pendukung lainnya sempat menjadi sorotan. Perdebatan tersebut semakin luas karena sebagian masyarakat menghubungkannya dengan penilaian terhadap hasil pembangunan pemerintah sebelumnya.

Padahal, kualitas sebuah stadion terdiri dari banyak aspek yang berbeda. Kekuatan struktur, kualitas lapangan, keselamatan penonton, kemudahan transportasi, serta pengelolaan fasilitas memiliki ukuran penilaian masing-masing. Sebuah stadion bisa memiliki keunggulan dalam teknologi konstruksi, tetapi pada saat bersamaan masih membutuhkan penyempurnaan dalam fasilitas tertentu.

Karena itu, penghargaan Bentley pada 2026 perlu ditempatkan sesuai konteksnya. Penghargaan tersebut membuktikan adanya pencapaian luar biasa dalam rekayasa struktur dan pemanfaatan teknologi digital pada pembangunan JIS. Namun, hal itu tidak otomatis berarti seluruh aspek stadion sudah sempurna atau setiap kritik yang pernah muncul menjadi tidak berlaku.

Justru dari sinilah muncul hal menarik untuk direnungkan. Di dalam negeri, sebuah bangunan publik seringkali dinilai bukan hanya berdasarkan kualitas atau manfaatnya, melainkan juga berdasarkan siapa pemimpin yang berada di balik pembangunannya. Ketika proyek dikaitkan dengan tokoh politik tertentu, penilaian masyarakat terkadang ikut dipengaruhi oleh dukungan maupun ketidaksukaan terhadap tokoh tersebut.

Akibatnya, sebuah pencapaian yang seharusnya dapat menjadi kebanggaan bersama berpotensi berubah menjadi bahan persaingan pendapat. Pihak yang mendukung pemimpinnya cenderung menonjolkan keberhasilan, sementara pihak yang berbeda pandangan lebih mudah mengingat kekurangannya. Padahal, keberhasilan dan kekurangan bisa saja hadir secara bersamaan dalam satu proyek yang sama.

Perjalanan JIS sebenarnya menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur besar tidak selalu bisa dilekatkan kepada satu orang. Gagasannya telah melalui beberapa masa pemerintahan, sementara pembangunan fisik hingga peresmian dilaksanakan pada era Anies Baswedan.

Setiap tahapan memiliki kontribusi yang berbeda, termasuk peran pemerintah daerah, perusahaan pelaksana, perancang, dan tenaga konstruksi yang terlibat.

JIS berhasil dibangun pada masa kepemimpinan Anies tentu merupakan bagian dari fakta sejarah

Namun, memberikan apresiasi kepada para insinyur dan pekerja yang menyelesaikan tantangan konstruksi juga tidak kalah penting. Sebab, pada akhirnya penghargaan internasional tersebut diperoleh melalui kemampuan teknis, ketelitian perencanaan, dan pelaksanaan pekerjaan yang melibatkan banyak tenaga profesional.

Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kualitas pekerjaan anak bangsa seharusnya tidak tenggelam di tengah persaingan politik. Indonesia memiliki tenaga ahli yang mampu menghadapi tantangan konstruksi besar, bahkan menghasilkan karya yang diakui dalam persaingan internasional. Prestasi seperti ini dapat menjadi dorongan bagi perusahaan konstruksi nasional untuk terus meningkatkan kemampuan dan mengembangkan teknologi.

Meski telah mendapatkan penghargaan dunia, perjalanan JIS tentu belum selesai. Stadion yang dibangun menggunakan sumber daya publik dalam jumlah besar harus terus dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara optimal. Keberhasilan pembangunan menjadi modal penting, tetapi manfaat jangka panjang bagi masyarakat tetap menjadi ukuran yang tidak boleh diabaikan.

JIS diharapkan dapat menjadi tempat penyelenggaraan pertandingan sepak bola, kegiatan olahraga, dan berbagai acara besar lainnya. Pengelolaan yang baik diperlukan agar fasilitas yang telah dibangun tidak hanya menjadi simbol kemegahan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi aktivitas masyarakat dan perekonomian di sekitarnya. Dengan demikian, pencapaian internasional yang telah diperoleh dapat berjalan seiring dengan manfaat nyata yang dirasakan publik.

Pada akhirnya, penghargaan JIS di Singapura memberikan cerita yang cukup menarik

Stadion yang dahulu menjadi salah satu janji politik, kemudian berhasil dibangun pada era Anies Baswedan, sempat ramai diperdebatkan, dan kini memperoleh pengakuan internasional atas kecanggihan konstruksinya. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah karya publik sering memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada perdebatan yang muncul di sekitarnya.

Prestasi ini tentu tidak harus membuat semua orang memiliki penilaian politik yang sama. Masyarakat tetap bebas mendukung atau mengkritik pemimpin tertentu, termasuk menyampaikan masukan terhadap fasilitas yang dibangun pemerintah. Namun, perbedaan pandangan seharusnya tidak menghalangi siapapun untuk mengakui keberhasilan yang memang memiliki dasar penilaian jelas.

Sebab, setelah masa jabatan berakhir dan perdebatan politik berganti dengan isu baru, bangunan seperti JIS akan tetap berdiri sebagai bagian dari fasilitas milik masyarakat. Penghargaan yang diperolehnya menjadi catatan bahwa Indonesia mampu menghasilkan karya konstruksi yang diakui dunia.

Dan mungkin, pelajaran paling sederhana dari perjalanan JIS adalah bahwa mengapresiasi sebuah prestasi tidak harus berarti mendukung tokoh politik yang berada di baliknya. Begitu pula mengkritik kekurangan tidak harus membuat seseorang menutup mata terhadap keberhasilannya. (utw)

 

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *