IMG-20260910-WA0215

RNTv-Jakarta, Tante Bestie adalah Diah Kusuma Putri Muda, CEO PT Konsumen Perumahan Nasional (Koperumnas). Sejumlah publikasi sejak 2023 mengenalnya sebagai figur di balik program kepemilikan rumah yang menyasar terutama masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk orang dengan penghasilan tidak tetap yang sulit memenuhi persyaratan pembiayaan bank.

Kalau perjalanan 9 tahun Tante Bestie sebagai developer tanpa riba mau diceritakan dengan kuat, saya melihat ceritanya bukan sekadar “9 tahun jual rumah”. Ini lebih cocok menjadi kisah jatuh-bangun membangun sistem perumahan alternatif.

❤️ SIAPA TANTE BESTIE?

Tante Bestie lahir dari perjalanan seorang pengusaha yang melihat satu masalah sederhana: banyak orang mampu mencicil, tetapi sulit memulai memiliki rumah.

Ada pekerja informal, pedagang kecil, janda, duda, TKI/TKW, dan masyarakat berpenghasilan rendah yang mungkin tidak punya slip gaji atau kesulitan memenuhi persyaratan bank.

Dari situlah muncul gagasan:

“Kalau mereka sanggup membayar kontrakan setiap bulan, kenapa tidak dibuatkan jalan supaya uang itu mengarah pada kepemilikan rumah?”

Dalam publikasi Koperumnas, model yang dikembangkan memang diposisikan sebagai developer syariah: tanpa pembiayaan bank dan dengan prinsip tanpa riba. Sasaran utamanya adalah MBR, termasuk masyarakat dengan penghasilan tidak tetap.

Bahkan sumber akademik UIN Jakarta yang membahas Koperumnas mencatat model kepemilikan yang saat itu dipromosikan sebagai satu harga untuk tenor berbeda, DP 0%, tanpa denda keterlambatan, serta persyaratan yang lebih sederhana.

🏠 9 TAHUN YANG TIDAK MUDAH

Menjadi developer dengan pembiayaan konvensional saja tidak sederhana.

Apalagi mencoba menjalankan pembangunan tanpa mengandalkan kredit bank berbunga.

Uang konsumen harus dikelola. Tanah harus tersedia. Legalitas dan perizinan harus berjalan. Jalan, saluran, listrik dan fasilitas harus dibangun. Rumah harus selesai. Sementara konsumen mencicil bertahap.

Karena itu perjalanan Tante Bestie juga penuh masalah, kritik, kerugian, dan tekanan. Dalam wawancara INDOPOS pada 2023, perjalanan bisnis Tante Bestie disebut pernah mengalami kerugian miliaran rupiah dan menghadapi laporan ke kepolisian.

Tetapi justru di situlah cerita 9 tahunnya menjadi menarik:

bukan cerita bahwa semuanya selalu berhasil, melainkan cerita tentang bertahan ketika sistem yang dibangun berkali-kali diuji.

🌱 DARI DEVELOPER MENJADI MISI SOSIAL

Lama-kelamaan yang dijual bukan sekadar tembok dan atap.

Muncul keberpihakan kepada kelompok yang sering merasa sulit punya rumah:

janda, duda, jomblo, pekerja informal, MBR, TKI/TKW dan masyarakat kecil.

Tante Bestie sendiri pernah menjelaskan bahwa ia turun mendengarkan keluhan masyarakat yang sudah bertahun-tahun mengontrak tetapi kesulitan DP dan persyaratan bank.

Dari situ lahir gaya komunikasi Tante Bestie yang kadang lucu dan nyeleneh:

“Rumah janda.”
“Rumah duda.”
“Cuma Rp50 ribu sehari.”
“KTP + napas.” 😂

Cara itu akhirnya viral. Salah satu video peluncuran perumahan Koperumnas di Bekasi dilaporkan mencapai jutaan penonton dan membawa Tante Bestie ke berbagai wawancara media.

Tetapi di balik kelucuannya ada pesan yang serius:

orang kecil juga berhak mempunyai mimpi punya rumah.

🏗️ PERJALANAN ITU JUGA MELAHIRKAN INOVASI

Perjalanan Koperumnas kemudian tidak berhenti pada pemasaran rumah.

Koperumnas mengembangkan teknologi konstruksi panel/pracetak; pada 2023, Diah Kusuma Putri Muda tercatat menerima Sustainable Innovation Construction Award 2023 kategori Inovasi Efisiensi terkait panel Prikes Koperumnas.

Jadi perjalanan Tante Bestie dapat dirangkum dalam satu kalimat:

9 TAHUN — BUKAN CUMA MEMBANGUN RUMAH, TAPI MEMBANGUN JALAN AGAR ORANG YANG SULIT DILAYANI SISTEM KONVENSIONAL TETAP PUNYA KESEMPATAN MEMILIKI RUMAH. (utw)

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *