Kemerdekaan Indonesia ke-81 Tahun, Tapi Apa Arti Merdeka Bagi Rakyat?

0
IMG-20260817-WA0038

Jakarta, RNTv, Setiap bulan Agustus, rakyat Indonesia pasti memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Bendera merah putih dikibarkan, upacara digelar, dan berbagai perlombaan menjadi bagian dari perayaan. Tahun ini, Indonesia memasuki usia 81 tahun.

Tapi, apa sebenarnya makna “merdeka” pada saat ini?

Bagi generasi yang mengalami penjajahan, kemerdekaan berarti terbebas dari kekuasaan asing. Tetapi bagi generasi yang lahir setelah Indonesia merdeka, penjajahan hanya dikenal melalui buku sejarah, cerita, atau karya sastra.

Ada kutipan menarik dalam novel Koin Terakhir karya Yogie Nugraha 

“Tidak pernah ada kemerdekaan sejati yang dirasakan rakyat Indonesia. Yang ada hanyalah pengalihan dari satu penjajah ke penjajah lain meskipun tampil dengan wajah berbeda.”

Meskipun hanya karya fiksi, kutipan tersebut cukup menarik. Sebab setelah penjajahan berakhir, bentuk tekanan terhadap manusia tidak selalu hadir dalam bentuk tentara atau penguasaan wilayah. Ia bisa muncul dalam bentuk kemiskinan, keterbatasan pendidikan, ketimpangan kesempatan, tekanan sosial, bahkan ketakutan untuk menyampaikan pendapat.

Bukan berarti semua persoalan tersebut dapat disebut sebagai “penjajahan”. Namun, hal itu menunjukkan bahwa kemerdekaan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pergantian kekuasaan.

Apakah Arti dari Adil dan Makmur?

“Kita semua tahu bahwa penjajahan yang pernah dilakukan oleh Belanda dan Jepang memang sangat menyengsarakan rakyat kita. Tetapi dalam alam kemerdekaan politik penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri yang berduet dengan bangsa asing tidak kalah dahsyat.”

Dan bisa disebut, kata adil itu bagi yang makmur saja, bukan kepada setiap warga yang sudah merdeka.

Kemerdekaan juga membawa tanggung jawab. Setelah terbebas dari penjajahan, sebuah bangsa harus memastikan bahwa kebebasan itu benar-benar memberi ruang bagi rakyatnya untuk hidup, berkembang, dan menentukan masa depan. Kemerdekaan juga bukan berarti bebas melakukan apa saja.

Bebas berbicara bukan berarti bebas menyebarkan fitnah. Bebas menggunakan media sosial bukan berarti bebas menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Bebas memilih bukan berarti boleh merampas kebebasan orang lain. Merdeka berarti memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab untuk menggunakannya dengan baik.

Jadi bukan lagi sekadar “Apakah Indonesia sudah merdeka?” tapi “Apa yang kita lakukan dengan kemerdekaan yang telah diwariskan kepada kita?”

Sebab kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan terus hidup melalui pendidikan, kesempatan, keadilan, kebebasan berpikir, dan keberanian untuk menghargai hak orang lain.

81 tahun Indonesia merdeka bukan hanya tentang usia sebuah negara. Ia juga tentang bagaimana setiap generasi memahami dan mengisi kemerdekaan.

Namun kondisi bangsa saat ini sangat memprihatinkan dimana pejabat sekarang banyak melakukan korupsi gil-gilaan dan penguasa tak kuasa menahannya, di sisi lainnya rakyat yang hanya bisa melihat kondisi seperti ini, akhirnya menerima nasib dengan dibebankan harus membayar segala macam pajak yang tak ada gunanya untuk mereka.

Coba Bayangkan Pajak PBB / Pajak Bumi dan Bangunan: Rakyat membeli tanah dengan uangnya sendiri dan saat membeli sudah dikenai pajak pembelian, lalu saat mereka membangun rumah diatas tanah tersebut, mereka sudah dikenakan pajak pembangunan rumah dan saat sudah ada rumah, tanah mereka yang sudah menjadi milik merekapun dikenakan pajak PBB setiap tahunnya, apakah itu masuk dalam logika? Mereka seakan-akan menyewa tanah itu seumur hidup kepada negara, sungguh kejam sekali NKRI ini kepada setiap warganya, belum lagi pajak kendaraan bermotor dengan sistem yah sama.

Karena perjuangan untuk meraih kemerdekaan mungkin memiliki titik awal pada 17 Agustus 1945, tetapi perjuangan untuk memaknai kemerdekaan tidak pernah benar-benar selesai. (utw)

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *