Spanduk Aksi Mahasiswa: Prabowo-Gibran Gagal Total! Kami Muak 2 Tahun, Cukup 5 Tahun Mematikan’ dan Demo pun Ricuh

0
IMG-20261029-WA0034

RNTv-Jakarta, Aksi Mahasiswa sambut hari Sumpah Pemuda 28 Oktober dengan melakukan Penyampaian aspirasi massa “Indonesia Sadar” di Jakarta pada hari ini, Rabu (28/10/2026) sempat diwarnai kericuhan. Suasana yang tadinya kondusif mendadak memanas seiring berjalannya waktu.

Aksi ini adalah unjuk rasa pertama di lokasi tersebut setelah demonstrasi serupa berulang kali diadang aparat dalam beberapa bulan terakhir.

Di pinggir kolam Bundaran HI, massa tampak membentangkan beberapa spanduk, antara lain bertuliskan ‘All Eyes on Karhutla’ serta ‘Prabowo-Gibran Gagal Total’

Ada Spanduk besar yang bertuliskan ‘Prabowo-Gibran Gagal Total! Kami Muak 2 Tahun, Cukup 5 Tahun Mematikan’

Demonstrasi ini diwarnai berbagai poster dan spanduk yang berisi tuntutan dan sindiran terhadap kebijakan pemerintah.

Sekitar pukul 18.00 WIB, aparat kepolisian berusaha mendorong para pengunjuk rasa menjauh dari Bundaran HI. Mereka memasang barikade, sambil memakai helm dan tameng.

Polisi terdengar melepaskan sejumlah gas air mata terhadap mahasiswa dan warga yang berdemo.

Pada 19.00 WIB hujan deras turun di sekitar Bundaran HI. Para demonstran dan aparat perlahan meninggalkan lokasi tersebut.

Fanda, mahasiswa dari Jakarta, menyatakan dirinya bergabung ke demonstrasi ini karena menganggap pemerintah tidak kompeten menangani karhutla di beberapa daerah.

Mengapa Berdemo di Bundaran Hi?

Selama berbulan-bulan, kata Fanda, api terus berkobar dan masyarakat menjadi korban. Sementara itu, menurutnya, penegakan hukum kepada korporat juga tak serius.

“Aku berharap dengan demo ini bisa membuka mata pemerintah, karena ini menjadi bukti rakyat yang marah bisa bersikap dan beraksi, bahkan di lokasi yang terkenal sulit ditembus,” paparnya.

Demonstrasi, menurut Adi, pekerja swasta di sekitar Bundaran HI, adalah langkah awal untuk memulai perubahan.

Walau menganggap demo ini mustahil menjatuhkan pemerintahan, dia menyebut harapan selalu ada di tangan masyarakat.

“Dengan demo, kita bisa menunjukkan kalau situasi enggak baik-baik saja,” kata Adi.

Sekitar pukul 15.00 WIB, sebagian massa lainnya tertahan beberapa ratus meter dari Bundaran HI. Mereka tidak bisa bergabung dengan massa di Bundaran HI karena diadang aparat kepolisian dan personel TNI AD.

Sebagian kelompok mahasiswa masih tertahan di depan Gedung UOB. Imbasnya Jalan Sudirman mengarah ke Bundaran HI dan MH Thamrin ditutup.

Sejumlah peserta demo sempat berlari dan berupaya menerobos adangan, tapi dikejar aparat

Salah seorang peserta demo dari perguruan tinggi di Jawa Barat, Rian, menyesalkan sikap aparat.

Menurutnya, demonstrasi bagian dari hak warga negara yang dijamin konstitusi.

“Kami enggak mau bikin rusuh. Kami cuma gelisah dan ingin suara kami didengar,” tegasnya.

Aksi ini diinisiasi oleh kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komite Sadar.

Mereka mencakup Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, serta BEM Universitas Diponegoro.

Kemudian ada Serikat Mahasiswa UGM, Keluarga Mahasiswa ITB, sampai BEM KM Universitas Negeri Semarang.

Dalam keterangan resminya, BEM UI menyebut demo 28 Oktober 2026 merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya yang dihelat di Tugu Tani, Jakarta, pada 20 Oktober 2026—bertepatan dua tahun kekuasaan Prabowo-Gibran.

Pada aksi kali ini, Komite Sadar mengusung tema “Tepati atau Pergi.” Di media sosial, mereka menonjolkan simbol tiga jari (three-finger salute) yang dipopulerkan novel The Hunger Games sebagai materi kampanye.

BEM UI menyatakan bahwa three-finger salute “telah bertransformasi menjadi instrumen perlawanan yang lugas melampaui batas-batas fiksi.”

Jauh sebelum riuh di jalanan, three-finger salute, sambung BEM UI, “telah menjadi bahasa universal bagi gerakan sosial prodemokrasi di berbagai belahan dunia.”

“Mulai dari penolakan kudeta militer di Thailand dan Myanmar hingga perlawanan terhadap represi di Hong Kong. Terinspirasi dari semangat Revolusi Prancis, setiap jari membawa manifestasi nilai liberté [kebebasan], égalité [kesetaraan], dan fraternité [persaudaraan],” ucap BEM UI.

Menjelang batas akhir waktu penyampaian pendapat, ketegangan memuncak di area Bundaran HI. Massa aksi tampak menyalakan flare yang membuat langit Jakarta di sekitar pusat kota menyala merah dan dipenuhi asap, sebagai bentuk simbolis desakan aspirasi mereka.

Kelompok mahasiswa dan pemuda di berbagai daerah pada hari ini, Rabu (28/10/2026), tengah menggelar aksi demo yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Salah satu yang menarik dari demo ini adalah simbol kampanye yang digunakan. Di media sosial (medsos), belakangan ini ramai beredar simbol tiga jari yang menyertai aksi demo 28 Oktober.

Misalnya, simbol tiga jari yang dibagikan aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Komite Seruan Keadilan Rakyat (Sadar) melalui akun Instagram @bemundip. Kemudian, akun Instagram @bemui_official juga mengunggah simbol serupa. Lantas, apa arti simbol tiga jari yang ramai dibagikan di medsos? Jika tertarik untuk mengetahui, silakan simak penjelasan di bawah ini.

Arti simbol tiga jari yang ramai di medsos Simbol tiga jari atau dikenal juga dengan “three-finger salute” tidak memiliki arti tunggal, tetapi kerap bermakna sebagai lambang perlawanan terhadap kekuasaan. Simbol tiga jari itu juga menandakan semangat pembebasan dari ketidakadilan.

Gestur atau simbol tiga jari bukan kali pertama dipakai dalam demonstrasi di Indonesia. Pada demonstrasi di negara-negara lain, simbol three-finger salute juga sudah banyak dipakai untuk kampanye atau menyampaikan protes.

Misalnya, simbol tiga jari dipakai dalam aksi unjuk rasa di Thailand pada 2020 oleh kelompok prodemokrasi untuk menuntut perubahan politik yang lebih adil.

Simbol ini juga dipakai oleh kelompok prodemokrasi di Hongkong pada 2019. Simbol tiga jari yang ramai dibagikan di medsos saat demo 28 Oktober ini pada dasarnya turut dipengaruhi budaya populer film bergenre distopia berjudul The Hunger Game.

Gestur three-finger salute muncul dalam beberapa adegan utama film ini sebagai simbol perlawanan terhadap Capitol. Oleh karena itu, adegan mengangkat tiga jari ke udara menjadi salah satu yang paling ikonik. Secara umum, film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama tersebut berkisah tentang kehidupan masyarakat di bawah pemerintah otoriter, yang penuh kekerasan dan ketidakadilan.

Dalam satu waktu di bawah kondisi tersebut, terdapat kelompok yang ingin melakukan perubahan dengan menumbangkan penguasa. Kelompok tersebut kerap
mengacungkan tiga jari ke udara sebagai simbol solidaritas dan perlawanan. Dari film tersebut, gestur ini kerap dipakai dalam gerakan masyarakat untuk melawan ketidakadilan. Simbol tiga jari ini bisa bermakna pula sebagai solidaritas, keadilan, dan kebebasan. (utw)

 

 

 

 

 

 

 

 

Promo Iklan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *