Wawancara Khusus Bersama Rektor ISTN Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA

0
IMG-20261016-WA0030

RNTv-Jakarta, Wawancara Khusus dan Ekslusif jurnalis Mediaonline ReportaseNewsTV.com dengan Rektor ISTN Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA,  pada hari Kamis, 15 Oktober 2026. Di ruang kerjanya.

Transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan mengadopsi teknologi. Perguruan tinggi harus berani mengubah pola pikir, membangun budaya kerja yang transparan, mengembangkan potensi setiap individu, serta mempersiapkan mahasiswa menjadi pencipta solusi dan lapangan kerja bagi masyarakat.

Perubahan peradaban yang berlangsung begitu cepat telah membawa dunia pendidikan pada tantangan baru. Kemajuan teknologi digital, perubahan karakter generasi muda, serta dinamika kebutuhan dunia kerja menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan pemberian gelar, tetapi harus mampu membentuk manusia yang berkarakter, kreatif, mandiri, serta sanggup memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Di tengah perubahan tersebut, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) menghadapi tantangan untuk memperkuat kualitas pendidikan sekaligus membangun budaya institusi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Rektor ISTN, Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA, memandang bahwa transformasi pendidikan tidak bisa dilakukan hanya melalui pergantian kurikulum, penerapan teknologi, ataupun perubahan aturan administratif. Lebih dari itu, perubahan harus dimulai dari cara manusia berpikir, memahami persoalan, dan menjalankan tanggung jawabnya.

Dalam wawancara khusus bersama Mediaonline ReportaseNewsTV.com, Isnuwardianto menguraikan berbagai pemikirannya mengenai masa depan pendidikan Indonesia. Mulai dari tantangan peradaban digital, pentingnya personalisasi pembelajaran, transformasi budaya organisasi, digitalisasi tata kelola, penguatan nilai-nilai Pancasila, hingga peran perguruan tinggi dalam melahirkan generasi muda yang mampu menciptakan peluang kerja.

“Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari pengajar kepada peserta didik. Pendidikan harus mampu mengenali potensi manusia dan membantu setiap individu menemukan jalan terbaik untuk berkembang,” ungkap Rektor ISTN Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA, si Kampus ISTN-Jakarta Selatan, (15/10/2026).

PENDIDIKAN DI TENGAH PERUBAHAN PERADABAN DIGITAL

Pendidikan merupakan fondasi penting bagi generasi penerus bangsa. Namun, perubahan peradaban dan perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Bagaimana Bapak melihat kondisi pendidikan Indonesia saat ini?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Persoalan pendidikan sebenarnya sangat kompleks karena berkaitan dengan hampir seluruh sektor kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, maupun kehidupan bermasyarakat secara luas.

Pendidikan semestinya menjadi jalan untuk membantu manusia memahami persoalan dan menemukan penyelesaiannya secara lebih cepat, tepat, dan terarah.

Kalau dahulu manusia mungkin belajar sendiri-sendiri dan berusaha menyelesaikan persoalannya masing-masing, melalui pendidikan seharusnya proses tersebut dapat berlangsung lebih baik. Pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan manusia bisa dikembangkan sehingga menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Namun, kita juga harus menyadari bahwa pendidikan sendiri menghadapi persoalan yang harus diselesaikan.

Ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan. Pertama, apa yang akan kita berikan kepada generasi muda agar mereka siap menghadapi masa depan. Ini berkaitan dengan isi atau substansi pendidikan.

Kedua, bagaimana pengetahuan itu disampaikan. Metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.

Jangan sampai kita sibuk membicarakan sistem dan metode, tetapi melupakan tujuan utama pendidikan, yaitu mempersiapkan manusia agar mampu menghadapi persoalan kehidupan.

METODE PEMBELAJARAN HARUS MENYESUAIKAN KARAKTER GENERASI

Perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai metode pembelajaran, mulai dari tatap muka, pembelajaran daring, hingga sistem hibrida. Apakah satu metode dapat diterapkan kepada semua generasi?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Belum tentu. Setiap generasi memiliki karakteristik, kebutuhan, dan cara belajar yang berbeda.

Cara kita dahulu belajar belum tentu sepenuhnya cocok untuk generasi sekarang. Begitu juga metode yang sesuai bagi satu orang belum tentu efektif bagi orang lain.

Karena itu, kita perlu memikirkan pendekatan pembelajaran yang lebih personal. Pendidikan harus mampu menyesuaikan metode dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

Teknologi memberikan banyak pilihan. Ada pembelajaran tatap muka, daring, hibrida, dan berbagai pendekatan lainnya. Namun, kita tidak boleh menganggap satu metode sebagai jawaban untuk semua persoalan.

Yang paling penting adalah bagaimana peserta didik dapat memahami materi, mengembangkan kemampuannya, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menghadapi kehidupan nyata.

Kita juga harus berhati-hati agar tidak terjebak pada kerangka sistem yang kita buat sendiri. Sistem memang diperlukan, tetapi sistem seharusnya membantu manusia berkembang, bukan justru membatasi potensinya.

Pada akhirnya, pendidikan harus berorientasi pada manusia. Kita perlu memahami siapa yang sedang kita didik, apa kebutuhannya, dan bagaimana membantunya berkembang secara optimal.

TRANSFORMASI ISTN HARUS DIMULAI DARI PERUBAHAN BUDAYA

Bagaimana Bapak melihat pentingnya transformasi budaya dalam membangun dan memajukan institusi pendidikan, khususnya di lingkungan ISTN?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Ketika kita berbicara mengenai perubahan institusi, menurut saya, kita tidak cukup hanya mengubah sistem atau memperkenalkan teknologi baru. Kita harus membangun budaya yang mendukung perubahan itu sendiri.

Perubahan budaya membutuhkan konsistensi. Jangan sampai pada awalnya kita memiliki semangat yang besar, tetapi setelah berjalan beberapa waktu, semangat tersebut mulai berkurang dan akhirnya kembali kepada kebiasaan lama.

Transformasi harus dilakukan secara menyeluruh. Seluruh unsur organisasi harus siap berubah, mulai dari pimpinan, pengambil keputusan, hingga seluruh pelaksana di bawahnya.

Perubahan itu harus terlihat dalam pola pikir, sikap, dan aktivitas sehari-hari.

Kalau pola pikirnya belum berubah, pelaksanaan transformasi juga akan sulit berhasil. Teknologi boleh berkembang, aturan boleh diperbarui, tetapi kalau cara kita bekerja tetap sama, hasilnya belum tentu berubah secara signifikan.

Karena itu, transformasi tidak boleh berhenti sebagai slogan. Transformasi harus menjadi komitmen bersama dan diwujudkan dalam seluruh kegiatan institusi.

INOVASI TIDAK HARUS MENGHAPUS HAL BAIK DARI MASA LALU

Dalam proses pembaruan, sering kali sistem lama diganti dengan sistem baru. Bagaimana seharusnya perguruan tinggi menyikapi perubahan tersebut?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa semua yang lama itu buruk dan semua yang baru pasti baik.

Hal-hal yang sudah terbukti baik harus tetap dipertahankan. Pada saat yang sama, kita harus berani memperbaiki kekurangan dan menambahkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pengalaman masa lalu tetap memiliki nilai. Namun, kita juga tidak boleh menutup diri terhadap perkembangan baru.

Kalau setiap terjadi pergantian kepemimpinan atau perubahan kebijakan, semua yang sudah berjalan langsung dihapus, kita berisiko kehilangan hal-hal baik yang sebenarnya masih dibutuhkan.

Karena itu, yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi apa yang sudah ada, mempertahankan yang bermanfaat, memperbaiki yang kurang, dan mengembangkan sesuatu yang baru.

Dengan cara seperti itu, perubahan tidak membuat kita kehilangan fondasi. Sebaliknya, perubahan justru memperkuat institusi agar lebih siap menghadapi masa depan.

Menurut saya, tradisi dan inovasi tidak harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan bersama selama kita mampu menempatkannya secara tepat.

DIGITALISASI MENDORONG TRANSPARANSI DAN TATA KELOLA

Seberapa penting digitalisasi dalam mendukung transformasi dan meningkatkan tata kelola di perguruan tinggi?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Digitalisasi merupakan salah satu bagian penting dari transformasi karena dapat membantu kita membangun tata kelola yang lebih efektif, terintegrasi, dan transparan.

Pengelolaan keuangan, administrasi, perkembangan pekerjaan, dan berbagai kegiatan institusi dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui sistem digital yang dirancang secara baik.

Informasi yang dibutuhkan juga dapat diakses lebih cepat oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Dahulu, untuk memperoleh informasi tertentu, seseorang mungkin harus datang ke bagian lain, menunggu proses administrasi, atau melewati tahapan yang panjang. Dengan sistem digital yang baik, koordinasi dapat berlangsung lebih efektif.

Kita juga dapat mengetahui perkembangan suatu pekerjaan secara lebih cepat sehingga pengambilan keputusan tidak harus menunggu terlalu lama.

Namun, digitalisasi bukan hanya persoalan teknologi. Kita harus mengubah budaya kerja, pola pikir, dan cara berkoordinasi.

Teknologi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila orang-orang di dalam organisasi belum memiliki komitmen untuk bekerja secara terbuka, disiplin, dan bertanggung jawab.

Jadi, digitalisasi harus berjalan bersama perubahan budaya. Teknologi menjadi alat, sedangkan manusia dan komitmennya tetap menjadi faktor yang sangat penting.

PENDIDIKAN HARUS MEMANUSIAKAN MANUSIA

Bapak menekankan pentingnya pendidikan yang memanusiakan manusia. Apa makna prinsip tersebut dalam proses pendidikan?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Setiap manusia memiliki potensi dan manfaat. Kita tidak seharusnya menganggap seseorang tidak berguna hanya karena kemampuannya berbeda dari orang lain.

Misalnya, ada anak yang memiliki kemampuan matematika sangat baik. Ada juga yang memiliki bakat dalam bidang seni, menari, musik, olahraga, atau keterampilan lainnya.

Apakah semua anak harus diukur dengan ukuran yang sama? Tentu tidak.

Kalau kita hanya menganggap kemampuan matematika sebagai ukuran keberhasilan, bagaimana dengan anak yang memiliki bakat luar biasa di bidang seni? Padahal, masyarakat membutuhkan berbagai macam kemampuan.

Manusia memang diciptakan dengan perbedaan. Karena itu, pendidikan harus mampu menemukan dan mengembangkan potensi setiap individu.

Jangan sampai seseorang dianggap tidak memiliki kemampuan hanya karena ditempatkan pada lingkungan yang tidak sesuai dengan potensinya.

Tugas pendidikan adalah membantu seseorang menemukan kemampuan terbaiknya, kemudian memberikan ruang agar kemampuan tersebut berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurut saya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka, nilai, atau hasil ujian. Semua itu memang penting, tetapi kita juga harus melihat perkembangan karakter, kreativitas, keterampilan, dan kemampuan seseorang untuk bekerja sama dengan orang lain.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membantu manusia menjadi dirinya sendiri secara lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan.

GURU DAN DOSEN HARUS MENJADI PENDAMPING

Bagaimana prinsip memanusiakan manusia tersebut diterapkan oleh guru dan dosen dalam mendampingi peserta didik?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Pendidik tidak cukup hanya berdiri di depan untuk memberikan instruksi. Pendidik juga harus mampu mendampingi peserta didik dalam proses belajar.

Ada filosofi pendidikan yang menempatkan guru bukan sebagai satu-satunya pihak yang menentukan seluruh perjalanan anak didiknya. Guru harus mampu berjalan bersama peserta didik, memahami perkembangan mereka, dan membantu menemukan potensi terbaiknya.

Tentu saja, guru dan dosen tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengetahuan, membangun kedisiplinan, dan mengarahkan proses pembelajaran.

Namun, pendekatannya tidak boleh hanya berupa perintah. Kita harus memahami bahwa setiap peserta didik memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda.

Pendidik perlu membantu mereka berpikir, bertanya, mencoba, dan belajar dari kesalahan.

Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga mampu mengembangkan pemikiran dan kreativitasnya.

Bagi saya, pendidikan harus membangun manusia yang mampu berpikir dan bertanggung jawab, bukan sekadar mengikuti instruksi.

KOLABORASI MENJADI KEKUATAN UNTUK MENYELESAIKAN PERSOALAN

Di tengah perkembangan teknologi dan semakin kompleksnya persoalan kehidupan, mengapa kolaborasi menjadi penting?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Tidak ada seorang pun yang menguasai semua bidang secara sempurna.

Karena itu, kolaborasi menjadi penting agar setiap orang dapat saling melengkapi.

Perbedaan seharusnya tidak menjadi penghalang. Justru melalui perbedaan, kita dapat memperoleh sudut pandang yang lebih luas dan menemukan solusi yang lebih baik.

Dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya, kita mengenal lingkungan rukun tetangga dan rukun warga. Semangat kebersamaan yang terkandung di dalamnya seharusnya tidak hanya menjadi nama atau struktur organisasi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita perlu membangun kepedulian, saling membantu, dan memahami bahwa persoalan bersama tidak dapat selalu diselesaikan secara individual.

Hal yang sama berlaku di perguruan tinggi. Mahasiswa, dosen, peneliti, tenaga kependidikan, dunia usaha, dan masyarakat dapat saling melengkapi.

Perguruan tinggi akan lebih bermanfaat apabila mampu membangun kerja sama dan menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

PANCASILA HARUS DIHIDUPKAN, BUKAN SEKADAR DIHAFALKAN

Bagaimana Bapak memandang pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda di tengah perubahan peradaban digital?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Pancasila tidak cukup hanya dipahami sebagai lima sila yang dihafalkan. Kita harus memahami maknanya secara lebih mendalam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai Pancasila berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan sesama manusia, membangun kebersamaan, menjaga persatuan, serta menjalankan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, pendidikan harus membantu generasi muda memahami dan mengamalkan nilai-nilai tersebut, bukan hanya mengenalnya secara teoritis.

Kita perlu bertanya, apakah nilai-nilai Pancasila sudah benar-benar tercermin dalam cara kita bersikap, bekerja, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain?

Jangan sampai kita berbicara tentang persatuan, tetapi tidak mau bekerja sama. Kita berbicara tentang keadilan, tetapi tidak mau memahami hak orang lain.

Nilai-nilai kebangsaan harus hadir dalam tindakan nyata.

Dalam pembicaraan mengenai pendidikan kebangsaan, kita juga tidak boleh melupakan pentingnya penghayatan dan pengamalan Pancasila. Pengalaman masa lalu dapat menjadi bahan evaluasi untuk mencari pendekatan pendidikan nilai yang relevan bagi generasi sekarang.

Tujuannya bukan sekadar mengulang cara lama, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila benar-benar dipahami dan menjadi bagian dari karakter generasi muda.

GENERASI SENIOR HARUS MEMBERI RUANG KEPADA GENERASI MUDA

Apa peran generasi senior dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Generasi senior memiliki pengalaman yang penting. Namun, pengalaman itu harus disertai kemauan untuk mengevaluasi diri.

Kita hanya bisa memperbaiki kelemahan apabila bersedia mengenalinya. Kalau seseorang merasa dirinya selalu benar dan tidak mau melihat kekurangannya, bagaimana dia bisa berkembang?

Saya sendiri termasuk generasi senior. Karena itu, kita harus berani melakukan introspeksi dan bertanya apakah selama ini kita sudah memberikan ruang yang cukup bagi generasi berikutnya.

Generasi senior seharusnya tidak hanya mempertahankan posisi atau kekuasaan. Mereka harus mampu memberikan kesempatan kepada orang-orang yang memiliki kemampuan, prestasi, dan gagasan untuk berkembang.

Regenerasi bukan sekadar pergantian orang atau jabatan. Regenerasi merupakan proses meneruskan pengalaman, pengetahuan, nilai, dan tanggung jawab kepada generasi berikutnya.

Anak-anak muda membutuhkan kesempatan untuk belajar, mencoba, dan mengambil tanggung jawab. Mereka juga membutuhkan pendampingan agar dapat berkembang dengan baik.

Karena itu, generasi senior harus mampu menjadi pembimbing sekaligus membuka jalan bagi generasi muda.

Dengan begitu, pengalaman masa lalu dapat menjadi fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.

MAHASISWA HARUS DISIAPKAN MENJADI PENCIPTA LAPANGAN KERJA

Di tengah perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja, mahasiswa tidak selalu bisa bergantung pada lapangan kerja yang tersedia. Apakah perguruan tinggi perlu mendorong mahasiswa untuk menciptakan lapangan kerja sendiri?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Mahasiswa memang perlu dididik agar mampu menciptakan sesuatu dan menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.

Kita tidak bisa hanya mempersiapkan mereka untuk mencari pekerjaan. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk melihat peluang, mengembangkan gagasan, dan menciptakan kegiatan yang memberikan manfaat.

Namun, kemampuan seperti itu tidak muncul dengan sendirinya. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman belajar yang mendorong kreativitas, keberanian mencoba, kemampuan memecahkan masalah, dan kerja sama.

Perguruan tinggi harus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan. Pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah perlu dihubungkan dengan persoalan yang ada di masyarakat.

Mahasiswa perlu belajar bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi karya, produk, layanan, atau kegiatan yang bermanfaat.

Dalam proses tersebut, penelitian juga memiliki peran penting. Hasil penelitian seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai kebutuhan masyarakat.

Tentu saja, tidak semua mahasiswa harus menjadi pengusaha. Namun, setiap mahasiswa perlu memiliki pola pikir kreatif, mandiri, dan mampu mencari solusi.

Itulah salah satu bekal penting agar mereka mampu menghadapi perubahan dunia kerja.

SOCIAL ENTREPRENEURSHIP: KEWIRAUSAHAAN YANG MEMBERIKAN MANFAAT SOSIAL

Bapak juga menyinggung konsep social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial. Bagaimana konsep tersebut dapat dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ekonomi atau mendirikan perusahaan. Ada juga kewirausahaan sosial yang berorientasi pada upaya menyelesaikan persoalan masyarakat.

Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan melihat suatu persoalan, mencari solusi, menciptakan sesuatu, dan berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan untuk mengembangkan gagasan tersebut.

Dalam kewirausahaan sosial, kemampuan itu diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa dapat belajar mengidentifikasi persoalan di lingkungan sekitarnya. Misalnya, bagaimana membantu masyarakat meningkatkan produktivitas, memanfaatkan teknologi, mengembangkan keterampilan, atau menyelesaikan persoalan lingkungan.

Dari sana, mereka dapat mengembangkan gagasan yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial.

Namun, mahasiswa harus memahami bahwa mengambil risiko bukan berarti bertindak tanpa perhitungan. Risiko perlu dihadapi melalui pemikiran yang matang, penelitian, evaluasi, dan kerja sama.

Perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan tersebut melalui kegiatan akademik, penelitian, inovasi, dan kolaborasi dengan masyarakat.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan tidak berhenti sebagai teori.

PENDIDIKAN HARUS MENGHASILKAN MANUSIA YANG BERMANFAAT

Sebagai penutup, apa harapan Bapak terhadap masa depan pendidikan tinggi Indonesia dan generasi penerus bangsa?

Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA:

Pada dasarnya, pendidikan harus mampu membantu manusia menjadi lebih baik dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Kita perlu membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aturan, tetapi juga memahami kebutuhan manusia. Setiap individu memiliki potensi yang perlu dikembangkan melalui pendekatan yang tepat.

Pada saat yang sama, kita harus memperkuat kolaborasi, membangun budaya kerja yang baik, mengamalkan nilai-nilai Pancasila, serta mendorong mahasiswa agar mampu menciptakan inovasi dan peluang bagi masyarakat.

Perubahan harus dilakukan secara konsisten dan menyeluruh. Hal-hal baik dari masa lalu tetap dipertahankan, sementara kekurangan diperbaiki dan inovasi baru terus dikembangkan.

Saya berharap pendidikan tinggi dapat menjadi tempat tumbuhnya manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga karakter, kreativitas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Sebab, keberhasilan pendidikan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang memperoleh gelar akademik, tetapi juga oleh seberapa besar ilmu dan kemampuan mereka memberikan manfaat bagi kehidupan.

CATATAN REDAKSI

Membangun Pendidikan yang Berorientasi pada Manusia dan Masa Depan

Wawancara khusus dengan Rektor Institut Sains dan Teknologi Nasional, Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA, memberikan perspektif bahwa tantangan pendidikan di era digital tidak cukup dijawab dengan penguasaan teknologi semata.

Pendidikan membutuhkan perubahan yang lebih mendasar, mulai dari pola pikir, budaya organisasi, metode pembelajaran, hingga cara memandang potensi manusia.

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia yang terus berubah. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga perlu didorong untuk berpikir kritis, bekerja sama, menciptakan inovasi, dan mengembangkan solusi bagi persoalan masyarakat.

Di sisi lain, nilai-nilai Pancasila, pengalaman generasi senior, serta tradisi pendidikan yang masih relevan perlu tetap menjadi bagian dari fondasi pembentukan karakter bangsa.

Pesan penting dari wawancara ini adalah bahwa pendidikan yang baik bukan sekadar menghasilkan lulusan, melainkan membentuk manusia yang mampu mengenali potensinya, menghargai perbedaan, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Di tengah pesatnya perubahan teknologi, orientasi tersebut menjadi penting agar pendidikan Indonesia tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu menyiapkan generasi yang berperan aktif dalam menentukan masa depan bangsa.

REKTOR ISTN SOROTI PENTINGNYA PENGHAYATAN PANCASILA, P4 PERLU JADI REFLEKSI PENDIDIKAN KARAKTER GENERASI MUDA

Penguatan nilai-nilai Pancasila di tengah perubahan peradaban digital menjadi salah satu hal penting yang perlu mendapat perhatian dalam dunia pendidikan. Rektor Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA, menekankan bahwa Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan sebagai lima sila, tetapi harus dipahami maknanya dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam wawancara khusus bersama Majalah Nasionalnews, pembahasan mengenai pendidikan kebangsaan turut menyinggung Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), yang dahulu menjadi salah satu instrumen pendidikan ideologi Pancasila di Indonesia.

P4 menjadi bagian dari refleksi mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat dipahami secara mendalam oleh generasi muda, bukan sekadar menjadi pengetahuan teoritis di ruang kelas.

Pancasila Bukan Sekadar Lima Sila
Dalam pandangannya mengenai pendidikan, Rektor ISTN menekankan pentingnya memahami Pancasila secara lebih menyeluruh.

Pancasila bukan hanya rangkaian lima sila yang dihafalkan, melainkan landasan nilai yang perlu tercermin dalam sikap, perilaku, dan kehidupan sosial masyarakat.

Pengamalan nilai-nilai tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga dan masyarakat. Semangat kerukunan, kepedulian, serta gotong royong menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan bersama.

Keberadaan rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW), misalnya, mencerminkan pentingnya membangun hubungan sosial yang harmonis. Kerukunan tidak cukup hanya menjadi nama suatu lembaga, tetapi perlu diwujudkan melalui kepedulian dan kerja sama antarwarga.

P4 dan Tantangan Pendidikan Generasi Masa Kini

Dalam sesi wawancara, muncul pertanyaan mengenai P4 yang dahulu dikenal dalam pendidikan nilai kebangsaan, tetapi kini tidak lagi digunakan sebagai program resmi dengan bentuk yang sama.

Pembahasan tersebut membuka ruang refleksi tentang bagaimana pendidikan Pancasila dapat diperkuat kembali di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola kehidupan generasi muda.

Tantangannya bukan semata-mata mengembalikan program lama, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila benar-benar dipahami, dihayati, dan diamalkan.

Pendidikan karakter perlu dikembangkan melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan generasi sekarang. Nilai kebangsaan dapat diperkuat melalui pembelajaran, kegiatan kampus, penelitian, kolaborasi, serta keterlibatan mahasiswa dalam kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, pendidikan Pancasila tidak berhenti pada hafalan, tetapi menjadi pedoman dalam mengambil keputusan dan membangun hubungan dengan sesama.
Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia
Pandangan mengenai Pancasila juga berkaitan dengan gagasan bahwa pendidikan harus menghargai potensi setiap manusia.

Setiap individu memiliki kemampuan dan keunggulan yang berbeda. Ada yang unggul dalam bidang akademik, ada yang memiliki kemampuan seni, dan ada pula yang menonjol dalam keterampilan sosial maupun bidang lainnya.

Karena itu, pendidikan tidak seharusnya mengukur seluruh peserta didik menggunakan satu standar kemampuan yang sama. Perguruan tinggi perlu membantu mahasiswa mengembangkan potensi masing-masing sekaligus menanamkan tanggung jawab sosial.

Semangat menghargai perbedaan tersebut sejalan dengan pentingnya membangun kehidupan bersama yang saling menghormati dan bekerja sama.

Menghubungkan Nilai Pancasila dengan Era Digital

Perkembangan teknologi digital menuntut perguruan tinggi menyiapkan mahasiswa agar mampu beradaptasi, berpikir kritis, dan menciptakan inovasi. Namun, kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan nilai kebangsaan.
Mahasiswa tidak hanya perlu memiliki kemampuan akademik dan kewirausahaan, tetapi juga kepedulian terhadap masyarakat serta kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Dalam konteks ini, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi landasan untuk membangun budaya kolaborasi, menghargai perbedaan, dan mengarahkan kemajuan ilmu pengetahuan agar memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Pembahasan mengenai P4 pun relevan sebagai bahan evaluasi sejarah pendidikan kebangsaan: bagaimana pengalaman masa lalu dapat dipelajari, sementara metode pendidikan terus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.

Menjaga Nilai, Mengembangkan Pendekatan
Pendidikan kebangsaan menghadapi tantangan untuk tetap relevan bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi digital. Oleh karena itu, penguatan Pancasila perlu dilakukan melalui pendekatan yang mampu menjembatani nilai-nilai dasar bangsa dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Bagi perguruan tinggi, tugas tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab satu mata kuliah, tetapi juga bagian dari pembentukan budaya akademik, etika, dan kehidupan sosial di lingkungan kampus.

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan manusia yang mampu menghargai sesama, bekerja sama, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. (utw)

 

 

 

Promo Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *