Bali Milik Kita Semua: Permohonan Maaf Pelaku Pariwisata Wisnu Arimbawa untuk Billy Syahputra
RNTv-Bali, Permintaan maaf disampaikan oleh pelaku pariwisata Wisnu Arimbawa di Bali.
Saya memulai konten hari ini dengan menyampaikan permohonan maaf. Permohonan maaf kepada Bro Billy Syahputra, artis keren, artis beken, yang baru saja mengunjungi Pulau Dewata, mengunjungi Dreamland, Pantai Dreamland di Kuta Selatan, dan terjadi sesuatu yang sekarang kita masih nikmati di jagad maya.
Dunia maya memang sedang ramai-ramainya. Ada yang sengaja menggorengnya, motifnya mungkin apa, saling bersahut-sahutan, lalu ada orang lain yang mengulangi kontennya untuk mendapatkan traffic viral, kemudian barangkali mendapatkan manfaat. Sebagai pelaku pariwisata, pemerhati dan praktisi pemasaran pariwisata, seorang public speaker dan coach dalam customer service excellence, saya tidak akan terjebak ke sana.
Saya hanya ingin menyampaikan perspektif saya dari prinsip-prinsip service excellence dalam hospitality industry.
Sekali lagi, saya awali tadi dengan menyampaikan permintaan maaf kepada Bro Billy Syahputra
Dalam konteks Indonesia, Dreamland, Bali juga milik Billy Syahputra, seperti kita, karena dia adalah warga negara Indonesia dan dia adalah bagian dari Indonesia. Namun dalam konteks pariwisata, dia datang dari Jakarta, berkunjung ke Bali, kita sebut dia Wisnus, wisatawan nusantara.
Berkunjung ke sini, spending di sini, makan, mungkin cari kendaraan, menginap di hotel, berlibur, beraktivitas, dan jujur saja menghadirkan berkah kepada pelaku pariwisata di Bali. Di situ titik tolak kita berbicara ke depan.
Pada saat seperti itu, Billy Syahputra never go wrong. Tidak pernah salah. Karena pada saat dia menjadi wisatawan, dia adalah customer kita. Dia orang yang patut kita layani. Apalagi tidak ada satu aturan atau klausul pun yang melarang orang seperti Billy Syahputra datang ke pulau ini. Sebagai bagian dari Indonesia, siapa pun, miskin, kaya, suku apa pun, ingin menikmati Bali, dia datang karena dia orang Indonesia.
Seperti kita orang Bali, gampang ke Aceh, gampang ke Raja Ampat, gampang ke Toraja, gampang ke Borobudur, dan seterusnya.
Dalam konteks itu, ari kita pikirkan bahwa jangan terjebak dengan terminologi-terminologi yang recehan.
Billy Syahputra mengajak anaknya ke toilet. Sekali lagi, customer never go wrong. Mari kita cari tahu siapa penjaga toilet itu. Kasusnya terpaksa kita bedah: apakah dia orang Bali, atau bahkan bukan orang Bali? Apakah dia salah? Salah dalam konteks service excellence, salah dalam melayani customer. Lalu apakah pengelola manajemen yang mempekerjakan dia salah? Lebih besar lagi salahnya. Seharusnya pengelola, manajemen yang mengelola toilet, memastikan bahwa orang itu kompeten. Mungkin juga bisa berbahasa Inggris, tahu etika, berpakaian rapi, dan tahu human value dalam customer service.
Human value yang saya maksud antara lain, secara umum, kalau ada orang tua, ada yang membawa anak-anak, ibu hamil, ada yang membawa bayi, berikan prioritas. Jangan mendahulukan minta bayarnya dulu. Top dari semua service excellence adalah ketulusan hati. Mencoba yang terbaik dan terbaik kepada customer.
Andaikan dalam kasus Billy, andaikan, ya, diizinkan masuk, tiba-tiba Billy tidak bayar. Dalam kelas-kelas saya sampaikan, ikhlaskan 10 ribu itu untuk menerima berpuluh-puluh ribu dari semesta, dengan tetap berniat baik, berbicara baik, dan berlaku baik, sebagai kajian dalam Tri Kaya Parisudha di Bali yang kita yakini sejak kita lahir.
Maka dari itu, beberapa tahun lalu pun saya sudah menyumbangkan pendapat kepada pemerintah, kepada teman-teman pelaku wisata. Kasus wisatawan yang duduk di Padmasana Pura Tirta Empul . Kasus wisatawan yang berfoto di desa tua, di pohon yang sangat tua, di Tabanan. Bukan salah mereka.
Itu salah kita. Salah di tata kelola. Kalau mau tidak dikunjungi, kunci, pagari. Kalau mau dikunjungi oleh wisatawan, atur dengan profesional. Ada pecalangnya, ada guide khususnya, ada aturan do and don’t, sehingga tidak terjadi apa yang waktu itu terjadi. Nah, ini yang kita selalu sampaikan.
Untuk itulah saya ingin polemik ini selesai. Tapi kalau ada yang menggorengnya lagi, silakan. Bahwa apa pun yang terjadi, jika mereka adalah wisatawan, mereka adalah customer. Jika terjadi sesuatu, yang pertama saya ajak pelaku pariwisata Bali: salahkan diri dalam layanan, bukan menyalahkan wisatawan. Karena mereka adalah tamu kita.
Semoga pemahaman mendasar ini dapat dipahami, supaya tidak melebar ke mana-mana, menyebut bilik ini, bilik itu, dan sebagainya.
Saat kita menghadapi kasus ini, cuma satu saran saya, sequence of customer service excellence beyond hospitality. Pertama, minta maaf. Kedua, berikan penjelasan. Ketiga, berikan way out. Sehingga apa? Komplain menjadi customer experience buat mereka, lalu berbalik menjadi pujian. Complaint is blessing in disguise. Kadang-kadang komplain adalah tempat untuk mendapatkan komplimen. Itu makna dalam dari service excellence.
Semoga semua memahami kenapa saya memulai konten ini dengan meminta maaf kepada Billy Syahputra. Dengan permohonan maaf ini saya berharap, Billy, sudahlah, Bali adalah milikmu juga, seperti saya memiliki Jakarta, memiliki Papua, memiliki Kalimantan, dan sebagainya. Kita semua Indonesia, kita semua cinta Bali. That’s the reason why you come to Bali for holiday. Kita semua cinta Indonesia bersama-sama.
Pejabat di Bali yang memperkeruh keadaan saat menyindir artis saat ke Bali
Satu lagi kendala di Bali yaitu, pejabat tengil Arya Wedakarna yang menyoroti kelakuan artis saat datang ke Bali dan menyindir mereka yang keluhkan pelayanan pariwisata.
Arya Wedakarna sempat kontroversial karena sempat hadir di acara LGBT saat ke luar negeri.
Seruan Boikot Bali
Seruan boikot Bali yang belakangan riuh di media sosial mendadak makin panas usai direspons oleh Anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna (AWK). Bukannya meredam suasana, pernyataan AWK yang terkesan santai dan menyindir kontribusi wisatawan justru memicu perdebatan sengit di kalangan netizen.
Menanggapi seruan tersebut, AWK terang-terangan mengaku tidak masalah jika ada pihak yang ingin memboikot Bali karena hal itu dinilai bisa menguntungkan destinasi wisata daerah lain. Menurutnya, Bali saat ini memang sedang fokus melakukan pembenahan internal sekaligus melakukan seleksi ketat untuk menyaring wisatawan yang benar-benar berkualitas.
AWK menegaskan bahwa Bali lebih membutuhkan turis berdompet tebal alias memiliki daya beli tinggi ketimbang mengejar kuantitas. Ia secara terbuka menyampaikan lebih memilih jumlah wisatawan yang tidak terlalu banyak, asalkan mereka membawa banyak modal dan mengucurkan dolar di Pulau Dewata.
“Jadi sebenarnya kita sekarang sedang menyeleksi turis yang berkualitas, turis yang spending-nya banyak, turis yang memiliki modal banyak. Kita juga butuh turis yang dolarnya banyak,” katanya.
Kondisi kian keruh saat AWK membeberkan alasannya menilai pekerja pariwisata lokal lebih antusias melayani turis asing dibanding turis domestik. Ia menyinggung etika wisatawan asing yang terbiasa memberi uang tip, sementara menyindir kebiasaan sebagian turis lokal yang dianggapnya terlalu tega saat menawar harga dan punya banyak permintaan. Pernyataan ini pun langsung memantik kritik pedas dari netizen, khususnya di platform X.
“Nah, kalau bule-bule itu mereka sudah biasa memberikan tips. Mungkin itu penyebab secara psikologi orang-orang lokal di Bali ini mungkin lebih exciting untuk melayani bule,” ujarnya.
Banyak netizen yang menilai AWK bersikap jemawa dan lupa sejarah, mengingatkan kembali bahwa sektor pariwisata Bali bisa bertahan melewati masa kritis pandemi Covid-19 berkat gempuran wisatawan domestik saat pintu internasional tertutup rapat. Meskipun melontarkan kritik tajam, AWK bergeming dan membantah tuduhan bahwa dirinya bersikap diskriminatif terhadap wisatawan lokal. Ia mengklaim tetap berkomitmen melindungi seluruh wisatawan yang datang, sembari mengimbau masyarakat Bali agar tidak mudah terpancing dengan berbagai isu boikot di media sosial.
Seharusnya orang seperti Arya ini mendapat teguran keras dari pemimpin di Bali dan harus aware dengan keadaan saat ini. (utw)
Promo IklanÂ
